Oleh : Laurens Minipko

ADA jenis perantauan yang tidak dimulai dari koper yang penuh pakaian, melainkan dari keberanian yang dipaksa tumbuh sebelum waktunya. Begitulah kisah banyak anak muda Papua ketika meninggalkan tanah kelahiran dan berangkat ke Jawa atau Bali untuk menempuh pendidikan. Mereka datang membawa harapan keluarga, titipan pemerintah daerah, dan impian untuk kelak pulang membangun tanah asal. Namun, di balik kata “beasiswa” dan “kuliah di Jawa”, ada kenyataan yang lebih sunyi: kesepian, perbedaan budaya, kesulitan beradaptasi, dan tuntutan untuk bertahan di ruang sosial yang belum tentu ramah.

Di ruang sunyi itulah nama Paul Sudiyo—yang dalam profil resmi yayasan tercatat sebagai Paulus Sudiyo—menjadi penting. Ia bukan hanya pengurus sebuah lembaga. Bagi banyak mahasiswa Papua, ia adalah sosok yang hadir ketika rumah terasa terlalu jauh, ketika persoalan akademik berkelindan dengan persoalan hidup, dan ketika seorang mahasiswa membutuhkan lebih dari hanya sebatas uang kuliah. Ia membutuhkan seseorang yang bertanya, “Bagaimana kabarmu?” lalu benar-benar menunggu jawabannya.

Pada 12 Januari 1988, Yayasan Bina Teruna Indonesia Bumi Cenderawasih atau Binterbusih didirikan. Gagasan awalnya lahir dari keprihatinan sejumlah rohaniwan muda asal Papua yang sedang menempuh studi di Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta. Nama dan jasa mereka patut dikenang: Lukas Karel Degey,  Tadeus Kedeikoto, Pastor Yonathan Fatem, dan   Pastor Nato Gobay. Mereka melihat bahwa mahasiswa Papua tidak hanya memerlukan akses pendidikan, tetapi juga pembinaan diri agar dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan di perantauan.

Keputusan mendampingi mahasiswa Papua pada masa itu bukan perkara kecil. Pendidikan tinggi sering dibicarakan sebagai jalan mobilitas sosial, tetapi jalan itu tidak selalu rata. Seorang mahasiswa dapat memiliki surat penerimaan kampus, tetapi belum tentu memiliki kesiapan mental untuk hidup jauh dari keluarga. Ia dapat menerima beasiswa, tetapi belum tentu memiliki pendamping yang membantunya memahami budaya belajar, mengelola konflik, menjaga kesehatan, dan merencanakan masa depan.

Binterbusih tumbuh dari kesadaran bahwa pendidikan tidak selesai ketika seorang anak diterima di perguruan tinggi. Pendidikan justru memasuki tahap yang lebih menantang ketika ia harus hidup mandiri, bergaul dengan lingkungan baru, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkan pilihan-pilihannya.

Rumah yang Dibangun dari Pendampingan

Dalam perjalanan hampir empat dekade, Binterbusih menjalankan pendampingan di berbagai kota studi di Jawa dan Bali. Pendampingan itu mencakup pembinaan kepemimpinan, intelektualitas, spiritualitas, kewirausahaan, kesehatan, serta kunjungan ke kota-kota studi. Dengan kata lain, yayasan ini berusaha merawat manusia secara utuh, bukan hanya mengawal indeks prestasi.

Di tangan Paul, pendampingan memperoleh wajah yang personal. Ia tidak tampil sebagai pejabat yang hanya hadir ketika ada seremoni atau penandatanganan kerja sama. Ia hadir sebagai orang dewasa yang berjalan bersama anak-anak muda ketika mereka sedang belajar menjadi dirinya sendiri. Di situlah sebutan “Bapa” menemukan maknanya.

Menjadi “Bapa” bagi mahasiswa rantau bukan berarti mengambil alih hidup mereka. Seorang bapa yang baik membantu anaknya berdiri dengan kaki sendiri. Ia menegur ketika perlu, mendengarkan ketika anaknya gagal, dan mendorongnya untuk bertanggungjawab. Ia tidak mencetak pengikut yang bergantung selamanya, tetapi membentuk manusia yang kelak mampu memimpin dan melayani masyarakatnya.

Kisah pendampingan semacam ini mudah luput dari statistik. Data resmi lebih sering mencatat jumlah penerima beasiswa, peserta pelatihan, atau mahasiswa yang hadir dalam sebuah kegiatan. Padahal, kerja pendampingan berlangsung dalam percakapan-percakapan kecil: saat seorang mahasiswa bingung memilih mata kuliah, ketika ia menghadapi masalah di tempat tinggal, atau ketika ia mulai meragukan kemampuan dirinya sendiri.

Ketika Anak Sakit, Ketika Sahabat Pergi

Ada satu ukuran kebapaan yang tidak pernah masuk dalam laporan kegiatan tahunan mana pun: kesediaan untuk hadir di ruang rawat inap, larut malam, ketika seorang mahasiswa yang jauh dari orang tuanya sedang menahan sakit sendirian. Dalam catatan hidupnya, Paul Sudiyo mengenang bagaimana ia dan istrinya, seorang dokter spesialis anak, bertahun-tahun menjadikan kunjungan ke rumah sakit sebagai bagian dari rutinitas yang tidak bisa ditawar, meski jadwal kantor dan asrama sudah sepadat apa pun. Ia memeriksa hasil laboratorium, mendiskusikannya dengan perawat, lalu duduk di sisi ranjang untuk menjelaskan ulang dengan bahasa yang bisa dipahami anak yang sedang cemas. Ketika seorang mahasiswa membutuhkan tambahan darah dan golongan darahnya kebetulan sama dengannya, ia sendiri yang menyumbangkan lengannya. Rumah sakit di Semarang, Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Malang, dan Surabaya mengenalnya bukan sebagai tamu, melainkan sebagai wali yang bisa dihubungi kapan saja, bahkan sebelum telepon genggam ada.

Ukuran kebapaan yang lain, yang jauh lebih berat, adalah kesediaan mengantar pulang seorang anak yang tidak lagi bisa diselamatkan. Ada kisah tentang jenazah seorang mahasiswi dari Pegunungan Bintang yang peti matinya harus dibongkar di landasan terbang karena tidak muat masuk pesawat kecil, lalu dipindahkan dengan hati-hati ke dalam kantong jenazah agar perjalanan bisa dilanjutkan. Ada pula kisah tentang hujan deras yang tiba-tiba berhenti di tengah upacara pembakaran jenazah di Jiwika, seolah alam pun memberi ruang bagi api untuk menuntaskan tugasnya. Setiap perjalanan mengantar jenazah semacam itu memakan waktu berhari-hari, melewati kota transit yang tak pasti jadwal penerbangannya, tetapi selalu diselesaikan sampai anak itu kembali ke pelukan keluarganya, betapa pun jauh dan sulit jalan menuju kampung halaman.

Kebapaan itu juga diuji lewat kehilangan yang datang dari lingkaran terdekatnya sendiri. Empat sahabat muda yang bersama-sama merintis Binterbusih pada 1998—seorang wartawan yang kemudian menjadi anggota DPR RI, seorang aktivis yang menjadi anggota MPR, dan dua imam yang mengabdi hingga menjadi Vikaris Jenderal di keuskupan masing-masing—satu demi satu dipanggil pulang lebih dulu, sebagian bahkan sempat berpesan dari ranjang rumah sakit agar pendampingan mahasiswa Papua “diteruskan, jangan ditinggalkan”. Pesan-pesan singkat semacam itulah, lebih dari dokumen kelembagaan mana pun, yang menjelaskan mengapa seseorang bisa terus bertahan dalam pekerjaan yang berat dan sunyi ini selama hampir empat dekade.

Wajah-wajah di Balik Satu Kata: Seribu

Kalau ada satu angka yang paling sering diucapkan orang-orang dekat Binterbusih hari ini, angka itu adalah seribu. Sekitar seribu anak sedang berada dalam dekapan pendampingan yayasan ini—mulai dari yang masih mengenakan seragam SMP, remaja SMA yang sedang gelisah memilih jurusan, sampai mahasiswa S1 yang berjibaku dengan skripsi, bahkan mereka yang sudah melangkah jauh ke jenjang magister dan doktoral. Bukan angka bulat yang dihitung sekali lalu dibiarkan beku, melainkan potret hidup yang terus bergerak, karena setiap tahun ada yang lulus dan pulang, dan ada pula anak baru yang datang membawa koper serta kerinduan yang sama seperti para pendahulunya.

Catatan Redaksi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer

Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.

Hak Jawab & Koreksi Berita

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.