Paul Sudiyo: Bapa Mahasiswa Papua di Rantau Jawa
Di Pegunungan Bintang, awal Juni lalu, 42 anak muda duduk di ruang orientasi, mendengarkan arahan tentang bagaimana bertahan dan belajar di kota asing—sementara 15 lainnya belum sempat hadir, entah karena jarak, biaya, atau alasan yang hanya diketahui keluarga masing-masing. Beberapa pekan berikutnya, giliran anak-anak terpilih dari seluruh Jawa berkumpul dalam pelatihan kepemimpinan, digembleng untuk menjadi lebih dari sekadar penerima beasiswa. Di Puncak, ceritanya sedikit berbeda: dari sekitar tiga ratusan calon mahasiswa yang bersiap berangkat menempuh studi, satu di antaranya harus mengurungkan niatnya—entah karena alasan yang tidak sempat tercatat dalam berita mana pun. Yang lain melanjutkan perjalanan, dan tak lama kemudian sebagian dari mereka kembali muncul dalam berita, kali ini sebagai mahasiswa penerima beasiswa yang diajak mengunjungi perpustakaan provinsi—sebuah pengingat kecil bahwa buku dan rak-raknya pun bisa menjadi bagian dari proses menjadi manusia baru.
Mitra-mitra seperti YPMAK turut menghitung jejak mereka sendiri: ratusan anak, dari bangku SMP hingga perguruan tinggi, yang pada satu titik pernah bersinggungan dengan uluran tangan Binterbusih. Tetapi di sinilah kejujuran perlu ditegakkan: angka-angka itu, sebesar apa pun kedengarannya, adalah potongan gambar dari masa kini, bukan rekapitulasi utuh perjalanan sejak 1988. Berapa total mahasiswa Papua yang pernah dibina Binterbusih sepanjang hampir empat dekade usianya, dari angkatan pertama hingga hari ini? Jawaban yang jujur adalah: belum ada yang bisa menjawabnya dengan pasti, sebab dokumentasi yang menyeluruh—yang merangkai setiap angkatan, setiap kota studi, setiap mitra beasiswa, setiap yang lulus dan setiap yang kembali mengabdi—memang belum pernah disusun.
Ketiadaan angka kumulatif itu sama sekali tidak mengecilkan arti pengabdian Binterbusih. Justru sebaliknya: karena jasanya sedemikian besar, sejarah itu terlalu berharga untuk dibiarkan tersimpan hanya dalam ingatan dan album foto yang perlahan menguning. Setiap alumni adalah satu bab yang belum ditulis. Setiap nama yang pernah didampingi adalah bukti bahwa pendidikan Papua dibangun oleh banyak tangan, banyak kesabaran, dan banyak perjumpaan kecil yang tidak selalu sempat terlihat oleh dunia luar.
Dari Anak Rantau Menjadi Pemimpin
Pada September 2026, Binterbusih menggelar temu alumni ke-5 di Timika, Papua Tengah. Beberapa nama alumni yang disebut dalam pemberitaan antara lain Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai, Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo, Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa, Bupati Deiyai Melkias Mote, Bupati Merauke Yoseph Gebze, Ketua MRP Papua Selatan Damianus Katayu, Sekretaris Daerah Kabupaten Puncak Nenu Tabuni, dan Direktur Eksekutif YPMAK Leonardus Tumuka. Mereka hadir sebagai pengingat bahwa pendampingan pendidikan dapat berbuah jauh melampaui ruang kelas.
Tentu, keberhasilan seseorang tidak dapat diklaim sebagai hasil kerja satu lembaga saja. Ada keluarga, kampus, pemerintah daerah, pemberi beasiswa, komunitas, dan perjuangan pribadi. Namun, lembaga seperti Binterbusih menyediakan ekosistem yang sering kali menentukan: tempat seseorang tidak merasa sendirian ketika sedang berproses.
Di situlah Paul Sudiyo layak dikenang sebagai “Bapa Mahasiswa Papua di Rantau Jawa”. Sebutan itu bukan terutama tentang usia atau jabatan. Ia adalah penghormatan kepada seseorang yang memilih untuk hadir secara terus-menerus. Ia merawat keberanian anak-anak muda untuk belajar, gagal, bangkit, dan suatu hari pulang dengan bekal yang lebih besar daripada ijazah.
Pulang Bukan Akhir Perjalanan
Tujuan akhir pendidikan anak Papua di rantau bukanlah sekadar menjadi orang berhasil secara individual. Tujuan yang lebih besar adalah pulang sebagai manusia yang mampu ikut membangun masyarakatnya. Pulang tidak selalu berarti kembali menetap di kampung halaman. Pulang dapat berarti membawa pengetahuan, jaringan, integritas, dan keberanian untuk memperjuangkan masa depan Papua dari mana pun seseorang bekerja.
Binterbusih memahami bahwa beasiswa harus menjadi alat perjuangan, bukan alasan untuk berhenti berjuang. Karena itu, pembinaan karakter, kepemimpinan, keterampilan, kesehatan, dan iman menjadi bagian dari proses. Pendidikan dipandang sebagai pembentukan manusia yang siap melayani, bukan hanya sebagai proses memperoleh gelar.
Maka, ketika kita menyebut sekitar seribu peserta didik yang sedang didampingi hari ini, kita sebetulnya sedang berbicara tentang seribu perjalanan hidup yang belum selesai. Di antara mereka ada yang sedang belajar menyesuaikan diri, ada yang sedang menyelesaikan tugas akhir, ada yang menunggu wisuda, dan ada yang kelak akan menjadi guru, dokter, birokrat, pengusaha, pemimpin agama, atau penggerak masyarakat.
Sedangkan untuk seluruh perjalanan sejak 1988, kita belum memiliki angka final. Yang telah tersedia baru serpihan cerita; sisanya tersimpan dalam arsip, ingatan, album kegiatan, dan kesaksian para alumni. Tugas berikutnya adalah mengubah serpihan itu menjadi sejarah yang terdokumentasi: berapa mahasiswa yang pernah dibina, dari daerah mana mereka berasal, di kota studi mana mereka belajar, berapa yang telah lulus, dan berapa yang telah kembali mengabdi.
Sebab, sebuah pengabdian panjang layak memiliki catatan yang setara dengan kebesarannya.
Dan di antara catatan itu, barangkali akan selalu ada satu kalimat yang paling manusiawi: bahwa di rantau Jawa dan Bali, ketika rumah terasa jauh dan masa depan tampak samar, pernah ada seorang Paul Sudiyo yang memilih untuk berdiri di dekat mahasiswa Papua—bukan sebagai orang asing, melainkan sebagai seorang bapa. **
(Timika, 05-09-2026)
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer
Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.
Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.




















