Ananias Faot, Asisten I Setda Mimika didampingi Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Elizabeth Cenawatin, Sekretaris Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Daniel Orun dan Wakil Ketua I LEMASKO Marianus Maknaepeku dan Ketua LEMASA Sem Sondegau serta undangan foto bersama usai pembukaan, Selasa 14 Juli 2026. (Foto – Maria Goreti Barowati/papuaglobalnews.com).

 

Timika,papuaglobalnews.com – Sebanyak 100 generasi muda Suku Amungme dan Kamoro (AMOR) mengikuti pelatihan musik tradisional yang digagas Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Mimika selama empat hari, mulai 14 hingga 17 Juli 2026.

Peserta pelatihan merupakan utusan dari sejumlah sanggar seni Suku Amungme dan Kamoro. Dari Suku Amungme terdiri atas Sanggar Amungme More (5 orang), Sanggar Sungki Nameng (5 orang), Sanggar Jii Nameng (5 orang), LEMASA (15 orang), Sanggar Agimuki Nameng (5 orang), dan Sanggar Amungme Jorah (5 orang), sehingga total peserta dari Suku Amungme berjumlah 40 orang.

Sementara dari Suku Kamoro terdiri atas utusan 10 sanggar dari Wania SP1 dan SP4 dengan masing-masing mengirim tiga peserta sehingga berjumlah 30 orang, ditambah Sanggar Imiri (5 orang), Sanggar Yamate (5 orang), Sanggar Imatea (5 orang), Sanggar Mbibiro (5 orang), Sanggar Dau’i Waka (5 orang), dan Sanggar Pereno (5 orang). Total peserta dari Suku Kamoro sebanyak 60 orang, sehingga jumlah keseluruhan peserta mencapai 100 orang.

Kegiatan yang berlangsung di salah satu hotel di Jalan Budi Utomo, Timika, ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Nelinio Pieter Moses Parinussa, Dosen Sekolah Tinggi Agama Kristen Indonesia (STAKIN) Jayapura, Dominggus Kapiyau sebagai pemusik Suku Kamoro, dan Frans Timang sebagai pemusik Suku Amungme.

Bupati Mimika Johannes Rettob dalam sambutan yang dibacakan Asisten I Setda Mimika, Ananias Faot, mengatakan pelatihan ini mengusung tema “Membina Pemusik Lokal untuk Membangkitkan Musik Tradisional di Kabupaten Mimika.”

Menurutnya, tema tersebut bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah tekad dan panggilan moral. Selama bertahun-tahun musik tradisional Papua sering kali hanya menjadi tontonan pada acara adat atau festival tahunan.

“Padahal musik ini adalah nadi kehidupan masyarakat kita. Suara alunan pikon, harmonika yang mendayu dari pegunungan, pukulan tifa, bunyi strembas, ukulele, dan tiupan triton di pesisir pantai merupakan suara Tanah Papua, suara leluhur yang bercerita tentang keberanian, kedamaian, dan kebersamaan,” ujarnya.

Bupati kemudian mengajak generasi muda AMOR untuk merenungkan masa depan musik tradisional Papua sekaligus mengajukan pertanyaan refleksi.

“Siapa yang akan memainkan alat musik ini sepuluh atau dua puluh tahun dari sekarang? Siapa yang akan mengajarkan alat musik ini kepada anak-anak kita kelak? Jika bukan kita generasi saat ini, lalu siapa lagi? Jika tidak dimulai dari hari ini, kapan lagi?” katanya.

Karena itu, pelatihan ini hadir untuk membina generasi muda menjadi pemusik lokal yang tangguh, bukan sekadar mampu memukul atau meniup alat musik, tetapi benar-benar memahami filosofi, teknik, dan jiwa dari setiap alat musik yang dimainkan.

Kepada para peserta, Bupati menyampaikan tiga pesan penting.

Pertama, jadilah pemusik lokal yang berakar kuat dengan menguasai musik tradisional Papua secara sungguh-sungguh. Ia menegaskan agar generasi muda tidak pernah malu memainkan musik tradisional karena justru keunikan musik Papua menjadi identitas yang dihormati dunia.

Kedua, jadilah pemusik lokal yang kreatif. Setelah menguasai dasar-dasar musik tradisional, peserta didorong untuk berani berinovasi dengan memadukan musik tradisional dan genre modern, tanpa menghilangkan ciri khas aslinya agar tetap diterima lintas generasi.

Ketiga, jadilah agen pembangkit budaya di lingkungan masing-masing. Setelah mengikuti pelatihan, peserta diminta mengajarkan kembali ilmu yang diperoleh kepada teman, adik-adik, maupun masyarakat sekitar.

“Sebarkan semangat bahwa musik tradisional Papua itu keren, membanggakan, dan merupakan identitas jati diri kita,” pesannya.

Kepada para instruktur dan tokoh adat yang hadir, Bupati menitipkan generasi muda tersebut agar dibimbing dengan penuh kesabaran serta ditanamkan kecintaan, disiplin, dan kebanggaan terhadap budaya sendiri.