Timika,papuaglobalnews.com – Peluncuran dan peresmian 10 ribu Alkitab Bahasa Damal/Amungme yang digarap selama hampir 18 tahun setelah 70 tahun pelayanan misi pekabaran Injil di Tanah Papua, khususnya wilayah pegunungan oleh para misionaris asal Amerika Serikat, berlangsung meriah di GOR Futsal SP5, Rabu 20 Mei 2026.

Peluncuran dan peresmian diawali dengan penabuhan tifa oleh tim penerjemah, dilanjutkan penampilan drama dari jemaat serta ibadah syukur. Momentum peluncuran juga ditandai dengan penyerahan Alkitab oleh Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong bersama tim penerjemah, anak-anak Lambege dan Damal Nerek kepada perwakilan jemaat GKII, Kingmi dan Katolik secara serentak.

Ibadah syukur ini dihadiri ribuan Jemaat GKII, Kingmi dan Katolik, serta Staf Ahli Provinsi Papua Tengah dan perwakilan Pemerintah Kabupaten Puncak dan Intan Jaya dengan mengusung tema “Bersyukur atas Kebaikan dan Perbuatan-perbuatan Besar dari Tuhan” yang diambil dari Mazmur 103:1-5.

Turut hadir keluarga pilot dari Timika, Nabire dan Merauke yang dahulu mengantar para penginjil ke daerah-daerah pelayanan, Pdt. John Berri, Pdt. John Curz yang lahir dan besar di Moni, serta anak-anak dan cucu keturunan para misionaris Lambege dan Damal Nerek.

Dalam kesempatan tersebut, tim penerjemah dan keluarga misionaris juga mendapat kesempatan membawakan lagu pujian.

Pdt. John Berri dalam pesan firman Tuhan yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Damal/Amungme oleh Pdt. Deteminus Beanal mengungkapkan, bahwa Alkitab Bahasa Damal/Amungme merupakan buku yang berisikan seluruh firman Tuhan.

Ia mengajak jemaat membayangkan bagaimana menghadirkan Alkitab dalam bahasa ibu setelah dinantikan selama 70 tahun, sehingga menurutnya sangat layak dirayakan pada hari tersebut.

Menurutnya, firman Tuhan disebut sebagai pelita bagi kaki dan terang bagi jalan kehidupan manusia.

Pdt. John Berri memberikan ilustrasi sederhana tentang jemaat yang tinggal di honai di kampung. Pada malam hari, ketika hendak keluar rumah untuk membuang air, seseorang membutuhkan senter untuk menghalau gelapnya malam. Dengan cahaya senter, orang dapat melihat jalan menuju tempat membuang air kecil maupun besar.

“Dengan demikian Alkitab ini menjadi terang bagi kaki kita, supaya kita berjalan bukan dalam gelap tetapi dalam terang sesuai firman Tuhan,” pesannya.

Ia juga mengambil sebuah roti dan menunjukkan kepada jemaat bahwa manusia tidak hidup dari roti saja, ubi saja, papeda saja ataupun nasi saja, melainkan dari setiap firman yang keluar dari mulut Tuhan.

Kepada jemaat, ia menegaskan bahwa selain memenuhi kebutuhan jasmani, manusia juga harus memperhatikan makanan rohani. Menurutnya, Alkitab menjadi bagian penting dalam “bakar batu rohani”.

Ia juga mengungkapkan bahwa dalam Alkitab disebutkan firman Tuhan sebagai pedang.

“Kita menggunakan pedang untuk mengalahkan musuh. Firman Tuhan adalah pedang yang mengalahkan dan meruntuhkan benteng-benteng iblis. Waktu Yesus dicobai iblis, karena kekuatan firman Tuhan, Yesus mampu mengalahkan cobaan iblis. Kita harus mengalahkan iblis dengan firman Tuhan,” ujarnya.