Firman Tuhan juga disebut sebagai pedang bermata dua. Menurutnya, dari satu sisi pedang digunakan untuk mengalahkan iblis, tetapi di tangan seorang dokter pedang dapat dipakai untuk membedah dan mengeluarkan penyakit dari tubuh manusia.

“Kita memakai firman Tuhan untuk menyucikan dan mengeluarkan dosa yang ada di dalam tubuh kita. Firman itu bermata dua untuk mengalahkan iblis, tetapi juga untuk mengeluarkan dosa kita,” tegasnya.

Kepada seluruh jemaat yang hadir, Pdt. Jordan Berri mengajak agar dalam kehidupan di dunia yang gelap ini, umat Tuhan menggunakan firman Tuhan sebagai senter yang menerangi kegelapan.

Menurutnya, firman Tuhan lebih berharga daripada roti, sebab roti hanya mengenyangkan perut, sedangkan firman Tuhan membesarkan hati manusia.

“Hanya dengan firman Tuhan manusia mampu membelah dosa dan mengalahkan iblis yang membelenggu hidup manusia. Itulah firman Tuhan yang ada dalam Alkitab Bahasa Damal/Amungme,” katanya.

Ia juga turut mendoakan agar firman Tuhan menjadi makanan rohani yang menguatkan iman kepada Tuhan, menjadi pedang untuk mengalahkan iblis, sekaligus membersihkan dosa dari dalam diri manusia.

Sementara itu, Ketua Tim Penerjemah Alkitab, Pdt. Deteminus Beanal, dalam sambutannya mengakui bahwa proses penerjemahan Alkitab dalam bahasa ibu menghadapi banyak tantangan dan kesulitan, mulai dari keterbatasan dana hingga banyak anggota tim yang meninggal dunia.

Selain itu, menurutnya tantangan lain adalah masih sedikitnya orang Damal/Amungme yang menempuh pendidikan tinggi hingga jenjang doktoral. Namun di tengah keterbatasan tersebut, dengan kekuatan roh dan semangat pelayanan, proses penerjemahan hingga pencetakan akhirnya dapat diselesaikan secara bertahap.

Ia mengakui bahwa melalui proses penerjemahan tersebut banyak pengetahuan baru diperoleh. Menurutnya, menulis bagi orang Damal bukanlah hal mudah karena tidak semua orang mampu duduk lama untuk menulis. Namun pekerjaan itu merupakan bagian dari pelayanan sesuai amanat Yesus Kristus untuk memberitakan Injil.

“Kita harus setia dalam bekerja menerjemahkan,” pesannya.

Pada kesempatan itu, Pdt. Deteminus juga menyampaikan terima kasih kepada para konsultan, peninjau, penelaah, serta seluruh pihak yang telah terlibat dalam proses penerjemahan Alkitab tersebut.

Sementara Ketua Panitia, Pdt. Yohanes Magai, dalam laporannya menyampaikan bahwa peluncuran dan peresmian Alkitab Bahasa Damal/Amungme menjadi momen sejarah yang sangat penting bagi Suku Damal dan Amungme karena kini telah memiliki Alkitab dalam bahasa ibu.

Ia juga melaporkan bahwa sumber dana yang berhasil dihimpun panitia untuk mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut mencapai Rp1,935 miliar. Dana tersebut berasal dari sumbangan awal tim penerjemah sebesar Rp110 juta, sumbangan Gereja GKII, Kingmi dan Katolik Rp120 juta, sumbangan perorangan Rp60 juta, Pemerintah Kabupaten Puncak Rp1 miliar, Pemerintah Kabupaten Mimika Rp250 juta, Wakil Bupati Puncak Rp100 juta dan YPMAK Rp100 juta.

Dari total dana tersebut, panitia menggunakan Rp1,895 miliar untuk membiayai seluruh rangkaian kegiatan peluncuran dan peresmian. Sementara sisa dana di rekening panitia sebesar Rp135 juta. **