Kilas Balik 171 Tahun Masuknya Injil di Tanah Papua: Dari Pulau Mansinam Terang Iman Menyebar
JEMAAT Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua diliputi suasana sukacita dan syukur dalam memperingati 171 tahun masuknya Injil di Tanah Papua, yang bersejarah bermula di Pulau Mansinam pada 5 Februari 1855. Momentum penuh rahmat ini dirayakan melalui berbagai rangkaian kegiatan rohani, sosial, dan ibadah syukur di seluruh jemaat GKI di Tanah Papua.
Berbicara tentang sejarah peradaban Papua, tidak dapat dilepaskan dari peran penting dua misionaris ulung asal Jerman, yakni Carl Wilhelm Ottouw dan Johann Gottlob Geissler. Kedatangan keduanya menandai babak baru perjalanan iman dan peradaban di Tanah Papua.
Selain mengajarkan ajaran-ajaran Kristiani yang tertuang dalam Injil, kedua misionaris ini juga memperkenalkan nilai-nilai kehidupan modern, seperti pendidikan dasar, etos kerja, serta tata cara hidup yang teratur kepada Orang Asli Papua.
Sejarah mencatat, masuknya Injil pertama kali di Tanah Papua menjadi tonggak penting lahirnya peradaban modern. Pulau Mansinam sebuah pulau kecil yang berjarak sekitar 6 kilometer dari pusat Kota Manokwari menjadi saksi bisu dimulainya sebuah peradaban baru yang kemudian menyebar ke seluruh daratan Papua.
Tanggal 5 Februari 1855 dikenang sebagai tanggal sakral bagi Orang Papua. Pada hari itu, dua misionaris asal Jerman, Carl Wilhelm Ottouw dan Johann Gottlob Geissler, menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Tanah Papua. Mereka mendarat dengan doa yang penuh iman:
“Dengan nama Tuhan kami menginjak Tanah ini dalam melayani.”
Meski kedua zendeling tersebut telah lama wafat, buah dari pelayanan mereka tetap hidup dan terus bertumbuh hingga kini. Benih Injil yang pertama kali ditanam di Tanah Doreri, Pulau Mansinam, telah berbuah manis dan menyebar luas, menjangkau seluruh penjuru Tanah Papua.
Poin-poin Penting Sejarah Masuknya Injil di Tanah Papua:



















