SPPG Mimika Wania Mawokauw Jaya 2 dan SPPG Perintis Mimika Baru 002 Diresmikan, Kepala BGN: Secara Nasional Layani 57 Juta Porsi Perhari
“Bagi yang mengatasnamakan sebagai calo meminta bayaran, silakan lapor ke polisi untuk diproses secara hukum,” tegasnya.
Ia mengatakan, setiap minggu BGN akan terus membuka dapur sesuai sistem yang ada, bukan berdasarkan hubungan kepentingan, selama seluruh persyaratan telah dipenuhi.
Terkait insentif dapur, Sudaryono mengatakan terdapat perubahan mekanisme. Sebelumnya dapur yang melayani berapa pun penerima manfaat mendapatkan insentif sama besar Rp6 juta.
Namun sejak dirinya menjabat sebagai Kepala BGN, insentif dapur dibayarkan sesuai jumlah penerima manfaat.
Ia menegaskan, program MBG bukan bisnis yang semata-mata bertujuan mendapatkan keuntungan besar.
“Bisnis ini mengharapkan untung besar, salah. Rugi, salah. Boleh untung, tetapi tidak besar-besaran. Kita harus amal, siapkan menu yang baik untuk pemenuhan gizi bagi anak-anak,” katanya.
Menurutnya, hal yang paling penting memastikan anak-anak tidak hidup dalam kondisi kekurangan gizi dan mendapatkan pendidikan yang baik.
“Yang penting anak jangan hidup susah, kurang gizi, sekolah baik, tidak sama dengan orang tua dulu. Miskin atau kaya tidak menjadi jaminan anak itu berhasil,” ujarnya.
Sudaryono juga menyatakan BGN menyadari masih terdapat persoalan dalam pelaksanaan program MBG dan pihaknya tidak menutup mata terhadap persoalan tersebut.
“Intinya BGN kita menyadari ada persoalan. Kalau tidak ada persoalan, maka saya tidak jadi Kepala BGN. Tinggal bagaimana kita mampu menyiapkan tata kelola yang baik, sistem pengawasan yang tepat,” katanya.
Ia menjelaskan, dalam praktiknya BGN menemukan adanya konflik antara mitra dan yayasan.
Menurutnya, hal itu terjadi karena pada awalnya BGN membuat yayasan bermitra dengan pemilik dana yang menyiapkan anggaran. Namun, ada orang dari BGN yang membuat yayasan yang tidak memiliki modal, tetapi dalam operasionalnya selalu meminta setoran kepada yayasan.
“Akibatnya banyak menu, terutama sajian daging, dikurangi. Maka diminta setoran-setoran ke yayasan dihentikan, karena yayasan tidak berkontribusi. Akibatnya menu yang disajikan sangat jelek karena harus dipotong,” jelasnya.
Untuk memperbaiki pelaksanaan MBG ke depan, BGN akan menerapkan sistem sajian prasmanan di setiap kelas.
Menurut Sudaryono, sistem tersebut bertujuan agar makanan yang disajikan masih dalam kondisi hangat sekaligus menghindari persoalan yang selama ini terjadi, makanan basi termasuk kasus keracunan makanan.
Ia menjelaskan, metode prasmanan akan dibagi per kelas dan untuk sementara dilaksanakan secara bertahap.
Sudaryono menegaskan, BGN setiap hari menyalurkan sekitar 57 juta porsi makanan dan memastikan 57 juta porsi tersebut diterima dengan baik serta menu yang diberikan memenuhi kebutuhan gizi penerima manfaat setiap hari.
“Kami tidak ingin buka dapur asal-asalan, karena kami tidak mau ada persoalan yang baru. Tidak semua orang dapat masuk dapur. Harus mengikuti syarat agar tidak menyebarkan kuman,” katanya. **
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer
Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.
Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.




















