Ia menyebut sofa produksi anak-anak binaannya tidak mudah rusak jika dibandingkan dengan sofa pesanan dari luar yang menggunakan kayu lembek.

Selama ini, proses pembuatan sofa dilakukan di Jalan Kebun Siri dengan menyewa lahan milik orang lain. Biaya sewa lahan mencapai hampir Rp200 juta per tahun.

Dari kegiatan produksi tersebut, dalam satu bulan YPTP mampu memperoleh omzet sekitar Rp50 juta.

Ia menyebutkan, Kantor Marketing YPTP berada di Jalan Hasanuddin Nomor 22, RT 10, Kelurahan Pasar Sentral, serta di samping Gereja Santa Sisilia SP2, Jalan Cenderawasih.

Dalam sistem penjualan, sofa hasil produksi YPTP dapat dibeli secara tunai maupun kredit dengan jangka waktu pembayaran hingga satu tahun.

RP. Didimus mengakui, dari 268 anak yang terlibat, masing-masing mengikuti pelatihan sebanyak dua kali dalam sebulan.

Selama mengikuti pelatihan, para peserta dibagi sesuai dengan tugas masing-masing. Ada yang bertugas membuat kerangka sofa, membuat kursi dan meja, serta menjahit kulit sofa.

Ia menambahkan, ke depan setelah peletakan batu pertama pembangunan Pusat Industri, pihaknya juga akan meluncurkan Kantor Pemasaran AMOR yang bergerak di bidang sembako berlokasi di Jalan Hasanuddin.

Menurut RP. Didimus, kehadiran Pusat Industri nantinya sangat membantu pemerintah dalam membuka lapangan pekerjaan sekaligus menyerap tenaga kerja lokal.

Ia menilai, dengan semakin banyak tenaga kerja lokal yang terserap, angka pengangguran dapat dikurangi. Selain itu, menjadi kesempatan kerja bagi anak-anak muda yang diharapkan dapat menekan terjadinya kasus-kasus kekerasan di kalangan anak muda.

Ia berharap masyarakat Mimika dan semua pihak dapat memberikan dukungan terhadap pengembangan sumber daya manusia (SDM), khususnya bagi masyarakat lokal.

RP. Didimus juga mendorong masyarakat untuk lebih mencintai dan menggunakan produk lokal.

“Meskipun mahal, tetapi dijamin bermutu dan pembeli tidak merasa kecewa,” ujarnya. **