Timika,papuaglobalnews.com – Mimpi dan harapan untuk melatih serta membina tenaga kerja lokal terampil di bidang industri bagi putra-putri Orang Asli Papua (OAP) di Kabupaten Mimika segera terwujud.

Yayasan Pengembangan Talenta Papua (YPTP) berencana membangun Pusat Industri di KM 11, kawasan Kampung Kadun Jaya, Distrik Wania, Kabupaten Mimika, di atas lahan seluas dua hektare. Peletakan batu pertama pembangunan tersebut diagendakan setelah peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Direktur YPTP, RP. Didimus Kosi, OFM, kepada papuaglobalnews.com di Timika, Senin, 10 Agustus 2026.

RP. Didimus mengungkapkan, sumber dana untuk pembangunan Pusat Industri tersebut berasal dari bantuan dana Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Dinas Koperasi dan UMKM Mimika.

Ia menjelaskan, dengan dibangunnya Pusat Industri tersebut, kegiatan YPTP tidak hanya bergerak pada bidang pembuatan sofa, tetapi akan dikembangkan ke sejumlah bidang usaha lainnya seperti elektronik, otomotif dan listrik.

“Bidang awal kami masih fokus di pembuatan sofa. Selama ini tempat latihan di Jalan Kebun Siri. Tapi pemilik tanahnya mau menerima orang lain sehingga kami pending, sambil menunggu pembangunan Pusat Industri,” kata RP. Didimus.

RP. Didimus mengungkapkan, selama ini YPTP bergerak di bidang pembuatan sofa melibatkan kurang lebih 268 anak Suku Kamoro.

Yayasan tersebut didirikan pada tahun 2020 dan mulai berjalan pada tahun 2021. Hingga saat ini, sudah banyak hasil karya anak-anak Kamoro yang dijual untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Mimika sendiri, bahkan dipasarkan hingga ke kabupaten tetangga seperti Asmat dan Nduga.

Untuk harga sofa, satu set tertinggi mencapai Rp20 juta, sedangkan harga terendah sekitar Rp8 juta.

Menurut RP. Didimus, mahal atau tidaknya harga sofa tersebut tergantung pada model yang dibuat.

Selain itu, kayu yang digunakan sebagai kerangka sofa dari kayu matoa yang dinilai sangat kuat dan dapat bertahan lama. Sebelum digunakan, kayu tersebut terlebih dahulu dilabur dengan oli bekas agar terlindung dari serangan rayap.

RP. Didimus sangat yakin sofa hasil karya anak-anak yang didampinginya memiliki kualitas dan daya tahan yang kuat.

Dalam satu minggu, anak dampingannya mampu menghasilkan lima sofa dengan kualitas terbaik.

Ia menyebut sofa produksi anak-anak binaannya tidak mudah rusak jika dibandingkan dengan sofa pesanan dari luar yang menggunakan kayu lembek.

Selama ini, proses pembuatan sofa dilakukan di Jalan Kebun Siri dengan menyewa lahan milik orang lain. Biaya sewa lahan mencapai hampir Rp200 juta per tahun.

Dari kegiatan produksi tersebut, dalam satu bulan YPTP mampu memperoleh omzet sekitar Rp50 juta.

Ia menyebutkan, Kantor Marketing YPTP berada di Jalan Hasanuddin Nomor 22, RT 10, Kelurahan Pasar Sentral, serta di samping Gereja Santa Sisilia SP2, Jalan Cenderawasih.

Dalam sistem penjualan, sofa hasil produksi YPTP dapat dibeli secara tunai maupun kredit dengan jangka waktu pembayaran hingga satu tahun.

RP. Didimus mengakui, dari 268 anak yang terlibat, masing-masing mengikuti pelatihan sebanyak dua kali dalam sebulan.

Selama mengikuti pelatihan, para peserta dibagi sesuai dengan tugas masing-masing. Ada yang bertugas membuat kerangka sofa, membuat kursi dan meja, serta menjahit kulit sofa.

Ia menambahkan, ke depan setelah peletakan batu pertama pembangunan Pusat Industri, pihaknya juga akan meluncurkan Kantor Pemasaran AMOR yang bergerak di bidang sembako berlokasi di Jalan Hasanuddin.

Menurut RP. Didimus, kehadiran Pusat Industri nantinya sangat membantu pemerintah dalam membuka lapangan pekerjaan sekaligus menyerap tenaga kerja lokal.

Ia menilai, dengan semakin banyak tenaga kerja lokal yang terserap, angka pengangguran dapat dikurangi. Selain itu, menjadi kesempatan kerja bagi anak-anak muda yang diharapkan dapat menekan terjadinya kasus-kasus kekerasan di kalangan anak muda.

Ia berharap masyarakat Mimika dan semua pihak dapat memberikan dukungan terhadap pengembangan sumber daya manusia (SDM), khususnya bagi masyarakat lokal.

RP. Didimus juga mendorong masyarakat untuk lebih mencintai dan menggunakan produk lokal.

“Meskipun mahal, tetapi dijamin bermutu dan pembeli tidak merasa kecewa,” ujarnya. **