Timika,papuaglobalnews.com – Kamis, 1 Januari 2026 menjadi momen bersejarah dan penuh makna bagi umat Katolik di Stasi Santo Agustinus Nawaripi, Paroki Santo Stefanus Sempan, Keuskupan Timika. Bertepatan dengan Hari Raya Santa Maria Bunda Allah, Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA memimpin perayaan ekaristi kudus di Gereja Santo Agustinus Nawaripi.

Kunjungan ini merupakan lawatan pastoral perdana Uskup Bernardus ke Stasi Santo Agustinus Nawaripi sejak ditahbiskan sebagai Uskup Timika pada 14 Mei 2025, sekaligus menandai awal pelayanan pastoralnya di tahun 2026.

Sekitar pukul 08.30 WIT, Uskup Bernardus tiba di perempatan jalan Kampung Nawaripi dan diterima secara adat oleh masyarakat Suku Kamoro. Tokoh Kamoro, Siprianus Operawiri, bersama umat Katolik membentangkan spanduk ucapan selamat datang. Dalam sapaan adatnya, Siprianus meminta agar Uskup Bernardus membantu “membuka mata orang Kamoro dan memotong pohon besar” yang selama ini menghambat kebangkitan masyarakat Kamoro, yang disebutnya sebagai umat Katolik pribumi pertama di tanah Mimika.

Penyambutan adat dilanjutkan dengan pelemparan tepung sagu oleh Thomas Mutaweyao, tokoh Kamoro yang juga Anggota MRP Papua Tengah, sebagai simbol penerimaan tamu, serta tabuhan tifa sebagai tanda sukacita. Uskup Bernardus kemudian diarak menuju gereja, didampingi Pastor Theo, OFM, putra asli Kamoro. Setibanya di gerbang gereja, Uskup disambut tarian tradisional masyarakat Kabupaten Sikka.

Perayaan misa yang berlangsung dalam suasana Natal dan Tahun Baru ini mengusung tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” dengan subtema “Semoga Kehadiran Sang Penyelamat Membawa Sukacita bagi Kita Semua.”

Dalam homilinya, Uskup Bernardus menegaskan bahwa perayaan Natal, Tahun Baru, dan Hari Raya Santa Maria Bunda Allah merupakan satu kesatuan misteri iman tentang Allah yang menjelma menjadi manusia. Allah Putra rela turun dari kemuliaan-Nya, lahir sebagai manusia kecil di palungan yang hina, sebagai tindakan radikal untuk menyelamatkan dan memulihkan kerapuhan manusia.

Ia menekankan bahwa kelahiran Yesus Kristus adalah bagian dari rencana keselamatan Allah yang melampaui ruang dan waktu.

“Penjelmaan Allah dalam diri Yesus adalah bukti kasih-Nya yang tanpa batas bagi manusia,” ujarnya.

Uskup Bernardus mengajak umat Katolik untuk belajar dari teladan Maria, Yosef, dan para gembala—mereka yang miskin, kecil, dan sering diabaikan, namun justru menjadi penerima pertama kabar keselamatan. Maria, seorang perempuan sederhana dari kampung yang tidak dikenal, dengan kerendahan hati menerima kehendak Allah meskipun tidak sepenuhnya dipahaminya.

“Kita sering memaksa Tuhan mengikuti kehendak kita. Tetapi Maria menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah: Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu,” kata Uskup Bernardus.

Ia menegaskan bahwa umat Katolik dipanggil untuk meneladani sikap penyerahan diri Maria, bukan memaksakan ambisi pribadi kepada Tuhan. “Rencana Tuhan jauh lebih besar dan indah daripada apa yang kita pikirkan,” tegasnya.

Dalam konteks sosial Papua, Uskup Bernardus juga menyinggung kondisi tanah Kamoro yang kaya akan sumber daya alam, namun manfaatnya lebih banyak dinikmati pihak luar.

Ia mengkritik praktik ketidakadilan yang mengatasnamakan orang Kamoro dan Amungme, termasuk dalam birokrasi pemerintahan dan pelaksanaan Otonomi Khusus.

“Kebohongan dan ketidakadilan seperti ini tidak akan bertahan. Tuhan akan mengambilnya kembali,” ujarnya dengan tegas.

Ia mengingatkan para pendatang di Papua untuk menjunjung tinggi kejujuran, kebenaran, dan keadilan, serta tidak mengikuti skenario yang menindas masyarakat asli Papua demi keuntungan pribadi.

Uskup Bernardus juga menyampaikan komitmennya untuk memperjuangkan lahirnya generasi Kamoro dan Amungme yang berpendidikan tinggi bahkan hingga jenjang doktor dan sebagai pastor agar kelak memimpin Gereja dan masyarakat Papua secara bermartabat.

Selain itu, ia menekankan pentingnya sikap menghormati tuan rumah.

“Tamu harus menghargai tuan rumah, bukan mengambil alih semuanya. Jika itu terjadi, akan lahir konflik dan penolakan,” pesannya.

Ia menutup homili dengan ajakan agar umat Stasi Santo Agustinus Nawaripi membangun stasi tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara spiritual, sehingga iman umat semakin dewasa dan Gereja sungguh menjadi Tubuh Mistik Kristus yang satu, kudus, katolik, dan apostolik. **