Ia berharap setelah hampir lima bulan ditempa sesuai bidang keahlian masing-masing yang dipilih setiba di Timika dapat mulai membuka usaha secara mandiri atau melamar bekerja dengan orang lain supaya bisa memperoleh penghasilan dalam mendukung ekonomi keluarga bebas dari rantai kemiskinan.

Mengenai bantuan peralatan kerja kepada peserta setelah pelatihan guna mendukung keberlanjutan ilmu yang didapat, Yulita belum memberikan kepastian karena hingga saat ini tidak ada pos anggaran untuk pengadaan fasilitas.

“Jika ada anggaran untuk itu pasti kita bantu. Tapi selama tidak ada anggaran kita tidak bisa janji. Paling penting mereka kita kirim pelatihan agar punya bekal ilmu untuk memulai berusaha,” jelas Yulita.

 

Sebagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis, Yulita sangat mengharapkan kepada 10 orang ini sepulang dari pelatihan harus memulai mandiri berusaha agar keterampilan yang didapat tidak sia-sia melain bermafaat untuk mereka.

“Memang awalnya kita assesman 20 orang tapi karena tempat pelatihan yang di Bandung itu dipakai oleh Sekolah Rakyat (SR) akhirnya kita batalkan dan hanya 10 orang yang kita kirim ke Yayasan Sentra Handayani di Jakarta,” pungkasnya. **

Catatan Redaksi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer

Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.

Hak Jawab & Koreksi Berita

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.