Pesta Babi di Ujung Dunia: Atatbon, Kolonialisme dan Perjuangan Suku Muyu untuk Tetap Ada
Ot — mata uang kulit kerang yang menjadi medium seluruh pertukaran ekonomi penting. Ot bukan sekadar uang. Ia berfungsi sebagai alat tukar untuk daging babi, tanah, dan jasa; sebagai simbol status sosial yang dipamerkan dalam tarian seremonial; dan sebagai buku besar yang hidup tentang kredit dan hutang sosial yang tersimpan bukan di bank manapun, melainkan dalam ingatan komunal lintas generasi.
Etnografer J.W. Schoorl mendokumentasikan bahwa jumlah ot yang beredar “dalam pikiran” komunitas — jaringan hutang dan kewajiban yang diingat bersama lebih besar dari ot fisik yang benar-benar ada. Inilah ekonomi cadangan fraksional tanpa bank, tanpa kertas, hanya ditopang oleh kepercayaan dan reputasi.
Awon — daging babi, yang menjadi substansi pertukaran dalam pesta. Setiap babi telah dipelihara di hutan adat, dikenal secara personal, diberi nama, dan ditandai. Distribusi daging babi dalam pesta adalah peta relasi sosial: siapa mendapat bagian mana, dengan harga berapa dalam ot, ditentukan oleh jaringan kewajiban antara keluarga, klan, dan desa.
Pesta adalah, sebagian, penyelesaian hutang — yang distrukturkan sehingga tidak ada yang kehilangan muka, karena penyelesaian itu terjadi di dalam perayaan.
Yongbon — hasil kebun dan hutan, yang memberi makan pesta dan menancapkannya pada tanah. Kebun Muyu bukan sekadar sumber pangan. Tanah adalah memori warisan leluhur, dikelola oleh perempuan yang menjadi kecerdasan sejati sistem kebun, dan dilindungi oleh aturan kosmologis tentang tanah mana yang sakral, mana yang terbuka, dan kewajiban apa yang melekat pada masing-masing. Ketika hutan diambil, sistem kebun runtuh. Dan ketika kebun runtuh, pesta tidak bisa diberi makan.
Kunumkamben — kekerabatan dan kepemilikan bersama, yang menjadi arsitektur tempat semua yang lain bergerak. Schoorl mendokumentasikan bahwa kepala sebuah desa memiliki hubungan kekerabatan yang dapat diverifikasi dengan 49 dari 71 desa yang terdokumentasi pada zamannya. Setiap transaksi, setiap perkawinan, setiap aliansi beroperasi melalui jaringan ini. Atatbon adalah momen ketika jaringan tak kasat mata ini hadir secara fisik — ribuan orang berkumpul di satu tempat, nama dan wilayah klan disebut keras-keras selama distribusi daging, seluruh peta sosial dibuat tampak dan diperbarui.
Schoorl mendokumentasikan bahwa sebuah pesta dengan 15 ekor babi bisa menarik 3.000 pengunjung dari puluhan desa. Selama pesta, perdamaian sosial yang ketat diberlakukan: tidak boleh berkelahi, tidak boleh menagih hutang, tidak boleh mempermasalahkan perkawinan. Sebuah ruang liminal di mana aturan ketegangan biasa ditangguhkan, dan komunitas bisa bernafas bersama.
Film itu, dan Mengapa Dunia Merespon
Ketika film atatbon atau pesta pasar babi terakhir Willem Kimko diedarkan — melalui media sosial, jaringan aktivis, saluran diaspora Papua di Indonesia, Australia, Pasifik, Eropa, dan Amerika Utara — ia memancing respons yang tidak berhasil dipancing oleh siaran pers manapun tentang deforestasi.
Ia memancing respons itu karena menunjukkan sesuatu yang tidak bisa ditunjukkan oleh statistik: sebuah peradaban yang masih hidup. Bukan suatu bangsa yang didefinisikan oleh apa yang mereka sedang kehilangan, tetapi suatu bangsa yang didefinisikan oleh apa yang telah mereka bangun — sebuah sistem ekonomi, hukum, ekologi, dan kepemilikan bersama yang memiliki kecanggihan dan keindahan luar biasa, dan masih beroperasi penuh di tahun 2026.
Respons datang dari aktivis tanah adat di Selandia Baru yang mengenali dalam atatbon logika yang sama yang mengalir dalam upacara-upacara mereka sendiri: bahwa tanah bukan sumber daya tetapi kerabat, bahwa perayaan adalah pernyataan eksistensi, bahwa berkumpul bersama adalah bentuk perlawanan.
Respons datang dari akademisi ekonomi politik di Eropa yang mengenali dalam sistem ot dinamika yang sama yang digambarkan David Graeber dalam Debt: The First 5,000 Years. Dan respons datang dari warga biasa di kota-kota Indonesia, yang mungkin untuk pertama kalinya, melihat dalam sebuah pesta babi dari hutan Boven Digoel sebuah cermin yang dihadapkan pada pertanyaan: pembangunan untuk siapa, dan atas reruntuhan apa?
Pertanyaan untuk Indonesia
Saya menulis ini untuk pembaca Indonesia — bukan karena kisah Muyu adalah kisah eksotis dari pinggiran yang tidak relevan dengan kehidupan di kota-kota besar. Saya menulis ini justru karena kita semua adalah bagian dari konteks ini, mau tidak mau.
Kita yang hidup di Jakarta, Surabaya, Makassar, Yogyakarta — yang menikmati manfaat infrastruktur yang dibiayai sebagian dari ekstraksi sumber daya Papua; yang membeli produk dari perusahaan yang beroperasi di Boven Digoel; yang memilih pemimpin yang menandatangani PSN dan memberi lampu hijau bagi transmigrasi berskala besar ke Papua — kita bukan penonton yang netral dari peristiwa ini.
Proyek Strategis Nasional di Papua Selatan bukan sekadar isu lingkungan. Ia adalah pembongkaran sistematis terhadap sebuah peradaban. Ketika bulldozer masuk ke wilayah adat Muyu, yang pertama hancur bukan hanya pohon. Yang hancur adalah tanah warisan patrilineal yang menyimpan memori genealogis; lahan sakral yang menjaga keseimbangan kosmologis; ekosistem tempat babi dibesarkan selama sepuluh tahun; sumber hasil kebun yang menopang seluruh sistem atatbon; dan jaringan kepercayaan yang membuat ot bermakna. Hancurkan satu fondasi, dan seluruh bangunan runtuh.
Dan transmigrasi bukanlah program pembangunan yang netral. Dalam konteks masyarakat yang sudah pernah mengungsi secara massal di tahun 1980-an, yang sudah kehilangan sebagian besar hutan adatnya kepada konsesi penebangan dan perkebunan, yang sudah merasakan di dalam tubuh mereka apa artinya menjadi orang asing di tanah sendiri — menambahkan gelombang penduduk baru ke dalam wilayah itu bukan pembangunan. Itu adalah kelanjutan dari rekayasa demografis yang sama yang membuat orang Muyu rentan sejak puluhan tahun lalu.
Peradaban Siapa yang Kita Bangun
Jika sebuah masyarakat bisa membangun tanpa negara, tanpa bank sentral, tanpa sistem universitas, dan tanpa menghancurkan lingkungan mereka sebuah sistem ekonomi yang berfungsi, sistem hukum, sistem kesehatan, sistem transmisi pengetahuan, sistem pengelolaan lingkungan, dan mekanisme perdamaian sosial, semuanya dalam satu peristiwa kolektif yang berulang:
Apa yang sebenarnya kita maksud ketika kita menyebut mereka “belum berkembang”?
Dan apa tepatnya yang sedang dikembangkan ketika bulldozer tiba?
Atatbon ke-12 Willem Kimko berlangsung pada Januari 2026. Babi-babinya dibunuh dengan satu panah. Tamu-tamunya datang dari puluhan desa melalui hutan. Putranya merekam semuanya. Ot berpindah tangan. Jok dimasak dalam kulit kayu dan dimakan bersama. Ketmon ditarikan dari malam hingga fajar. Dan untuk satu tahun lagi, di tengah hutan yang telah ditandai negara untuk dikonversi, orang Muyu tahu siapa mereka.
Pengetahuan itu bukan relik. Itu adalah garis terdepan.
Film yang membawa pengetahuan itu ke seluruh dunia bukan perpisahan. Itu adalah deklarasi. Dan deklarasi itu meminta kita sebagai sesama warga negara Indonesia, sebagai sesama manusia untuk memilih: apakah kita akan menjadi saksi bisu, atau akan mulai bertanya dengan sungguh-sungguh tentang peradaban apa yang sedang kita bangun, dan atas reruntuhan apa. (*)
















