Timika,papuaglobalnews.com – Pasca peristiwa penembakan dan penyanderaan 9 perempuan Jila tanggal 17 Agustus 2026 lalu, hingga saat ini pelayanan penerbangan Perintis penumpang dan cargo Timika Jila dan Noema masih ditutup sementara sambil menunggu situasi keamanan kembali normal.

Hal ini disampaikan Alfasiah, Plt. Kepala Dinas  Perhubungan (Dishub) Mimika melalui Kepala Bidang (Kabid) Perhubungan Udara, Y. Jefri Pawara, ST., M.Si kepada papuaglobalnews.com di ruang kerjanya, Rabu 9 September 2026.

Jefri menjelaskan untuk Jila dilayani oleh dua operator penerbangan berbeda disesuaikan dengan panjang lintasan atau ranway. Rute Timika-Noema dilayani PT Reven Global Air Transport jenis pesawat Grand Carava 208 B dan Timika-Jila dilayani oleh PT Bunga Persada dengan jenis pesawat PAC 750 XL.

Ia mengakui untuk rute penerbangan PT Bunga Persada sempat berhenti pelayanan hampir satu bulan sebelum kejadian penyanderaan karena menjalani perawatan. Masa perawatan ini sedikit lama mengingat suku cadangannya harus didatangkan dari luar negeri.

Saat ini pesawat tersebut sudah dalam posisi siap terbang namun terkendala dengan faktor keamanan sehingga masih berhenti.

Jefri mengungkapkan berkaitan dengan itu, Dinas Perhubungan sudah mengadakan rapat dengan perwakilan tokoh masyarakat Jila yang selama ini ikut membantu dalam memberikan informasi kondisi cuaca bersama operator. Dalam rapat itu dari pihak masyarakat meminta supaya pihak operator kembali membuka melayani wilayah tersebut. Namun dengan situasi keamanan, pihak operator meminta kepada masyarakat memantau situasi selama September ini. Apabila dari sisi keamanan sudah tidak lagi terjadi gangguan operator bersedia mulai Bulan Oktober layani masyarakat Jila.

Kondisi ini juga sama untuk rute Timika-Noema yang selama ini dilayani PT Reven Global Air Transport juga dihentikan sentara.

Ia menambahkan Dinas Perhubungan selain menangani subsidi perintis penumpang juga cargo yang menggunakan APBD Mimika dan APBN 2026.

Subsidi penumpang secara keseluruhan terdapat delapan rute penerbangan terdiri dari lima rute dilayani PT. Bunga Persada yakni Timika-Jila pulang pergi tiga kali seminggu masing-masing lima penumpang, Timika – Jita satu kali seminggu dengan lima penumpang, Timika – Tsinga tiga kali seminggu dengan lima penumpang, Timika – Alama dua kali seminggu dengan lima penumpang dan Timika – Arowanop tiga kali seminggu dengan lima penumpang.

Sedangkan PT Reven Global Air Transport awalnya hanya melayani dua rute yakni Timika – Potowaiburu satu kali seminggu dengan tujuh orang penumpang kemudian ditambah Timika-Noema empat kali seminggu dengan tujuh penumpang. Sementara Timika-Agimuga satu kali seminggu dengan tujuh penumpang meskipun sudah diluncurkan namun belum dilayani karena masih menunggu jadwal penerbangannya.

Sementara perintis cargo dengan lima rute yakni, empat rute dilayani PT Bunga Persada yakni  Timika – Jila, Timika – Tsinga, Timika – Alama dan Timika – Arowanop. Masing-masing satu kali seminggu dengan target penumpang sekali terbang 750 Kg.

Sedangkan Timika – Noema dilayani PT Reven Global Air Sport juga satu kali seminggu.

Ia menjelaskan untuk pelayanan Jita, Potowaiburu dan Agimuga untuk sementara pelayanan tidak ada masalah namun wilayah gunung menghadapi persoalan faktor keamanan.

“Jadi kemarin kita rapat dengan PT Reven Global Air Sport bersama masyarakat dan mereka minta jaminan keamanan untuk wilayah Noema dan Jila. Setelah rapat operator serahkan surat ke kami berisikan minta konfirmasi jaminan dan kepastian dari otoritas pengelola Bandar Udara Noema (Dishub), Kantor Bandar Udara Wilayah X Merauke dan instansi keamanan di wilayah yang berwenang yang menyatakan bahwa menjamin kondisi kemanan Bandar Udara Noema sudah memenuhi ketentuan standar operasional keselamatan dan keamanan penerbangan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dengan dasar surat ini, saya serahkan kepada pimpinan Dishub untuk diteruskan ke Bupati sebagai pimpinan daerah guna mengambil kebijakan,” jelas Jefri.

Jefri mengungkapkan selama ini khusus bandar udara perintis wilayah pedalaman belum ada petugas keamanan, misalnya di Alama tidak ada Polsek dan Koramil.

Ia mengungkapkan dengan dihentikan sementara pelayanan ini pihak operator sudah banyak utang kepada Dishub sehingga mereka akan berupaya mengejar frekuensi pelayanan untuk penuhi kuota sesuai kontrak yang disepakati. Namun sistem pembayaran disesuaikan dengan berapa banyak pihak operator layani.

Ia mengakui meskipun pelayanan perintis ditutup sementara masyarakat mencari solusi sendiri dengan mencarter helikopter. Ia berharap masyarakat setempat menjaga situasi keamanan agar memberikan jaminan keselamatan dan keamanan bagi penerbangan perintis dalam  melayani masyarakat sesuai jadwal yang sudah ditentukan. **

Catatan Redaksi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer

Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.

Hak Jawab & Koreksi Berita

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.