Peluncuran dan Peresmian Alkitab Bahasa Damal/Amungme Jadi Momentum Iman, Pelestarian Budaya dan Peradaban Papua
Menurutnya, firman Tuhan yang hadir dalam bahasa lokal akan menjadi kekuatan rohani dalam membangun keluarga, memperkuat persaudaraan serta menanamkan nilai kasih, damai dan persatuan di tengah kehidupan masyarakat Papua.
“Kita ingin generasi muda Papua tumbuh bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara iman dan berakar pada budaya yang baik,” ujarnya.
Peluncuran Alkitab ini juga disebut menjadi pengingat bahwa keberagaman adalah anugerah Tuhan. Papua yang memiliki banyak suku dan bahasa diminta menjadikan keberagaman sebagai kekuatan persaudaraan, bukan alasan untuk terpecah.
“Mari kita jadikan firman Tuhan sebagai dasar dalam membangun kehidupan masyarakat yang damai, harmonis dan penuh kasih,” katanya.
Di tengah berbagai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat saat ini, nilai-nilai firman Tuhan sangat penting untuk menuntun kehidupan masyarakat menuju masa depan yang lebih baik.
Ia juga berharap agar Alkitab Bahasa Damal dan Amungme tidak hanya menjadi simbol atau koleksi semata, tetapi benar-benar digunakan dalam ibadah, penginjilan, pendidikan rohani serta kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Biarlah firman Tuhan hidup dan bertumbuh di tanah Papua melalui bahasa yang dipahami dan dicintai oleh masyarakatnya sendiri,” lanjutnya.
Kepada generasi muda Papua, ia menitipkan pesan agar tetap mencintai bahasa daerah, menjaga budaya, menghormati adat istiadat dan hidup takut akan Tuhan.
“Jangan pernah malu menggunakan bahasa ibu, karena di dalam bahasa itu terdapat identitas, sejarah dan nilai luhur nenek moyang kita,” katanya.
Acara peluncuran dan peresmian Alkitab Bahasa Damal/Amungme diharapkan menjadi berkat besar bagi gereja, masyarakat dan seluruh tanah Papua, sehingga damai sejahtera Tuhan senantiasa menyertai seluruh umat.
Diakhir sambutan, Kemong mengungkapkan pada 70 tahun lalau para misionaris barat dari Amerika datang di Papua khususnya di wilayah pegunungann mengajarkan suka cia injil hanya bermodalkan bahasa inggris tanpa mengenal bahasa ibu. Namun itu semua bisa terjadi karena kekuatan roh kudus yang satu dan sama yang berkerja pada diri setiap misionaris sehingga memampukan para hamba Tuhan dalam melayani dan dalam waktu tidak terlalu lama bisa menguasai bahasa daerah. Dengan menguasai bahasa ibu lebih mudah mewartakan kabar suka cita injil kepada masyarakat. **










