* Cara Berburu: Ketahanan pangan dan keberanian di alam liar.

* Cara Berperang: Strategi pertahanan diri dan perlindungan terhadap tanah ulayat.

* Cara Membayar Mahar: Penghormatan terhadap harkat dan martabat kaum perempuan serta adat pernikahan.

* Cara Menghargai Orang: Tata krama, etika dan nilai-mana dalam menjaga hubungan sosial.

* Cara Berkebun: Keahlian mengelola tanah dan menyatu dengan alam.

* Membagikan Sejarah Leluhur: Transfer pengetahuan agar silsilah dan identitas suku tidak hilang ditelan zaman.

Proses internalisasi nilai ini sengaja dilakukan oleh para orang tua agar generasi muda selalu menjaga kelestarian adat dan budaya secara turun-temurun hingga ke anak cucu kelak.

Bukan Peletakan Batu Biasa

Sebagai tanda dimulainya pembangunan fisik, wadah HAPAK telah melaksanakan prosesi peletakan batu pertama.

Momentum ini berjalan sangat sakral karena masyarakat meyakini bahwa peletakan batu tersebut bukan sekadar simbolis material biasa, melainkan sebuah ikatan suci dan peletakan pondasi bersama arwah para leluhur yang merestui perjalanan generasi penerus di Tanah Amungsa.

Dengan berdirinya Tongoi HAPAK ini, pemuda Amungme, Kamoro, dan lima suku kerabat siap melangkah maju tanpa kehilangan akar budaya mereka. **