Peletakan Batu Pertama Honai HAPAK, Momentum Kebangkitan dan Pondasi Adat Pemuda AMOR dan Lima Suku Kerabat di Mimika
Oleh : Dianu Omaleng – Kordinator Humas HAPAK
SEBUAH babak baru bagi pergerakan pemuda adat di Kabupaten Mimika resmi dimulai.
Melalui doa dan perjuangan panjang para pemuda lokal dari suku Amungme dan Kamoro (Amor), serta lima suku kerabat yang tergabung dalam wadah HAPAK, harapan besar untuk mendirikan sebuah rumah adat bersama akhirnya mulai terwujud.
Simbol Perjuangan dan Jembatan Aspirasi
Berdirinya Honai ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan penanaman pondasi spiritual dan kultural bagi anak-anak muda asli daerah.
Kehadiran markas adat ini diharapkan mampu membakar semangat para pemuda untuk menjadi jembatan hidup bagi masyarakat asli Papua dalam menyalurkan aspirasi kepada para pemangku kepentingan.
Filosofi Mendalam Tongoi (Honai) bagi Suku Amungme
Bagi masyarakat adat, khususnya Suku Amungme, kata Honai disebut dengan istilah Tongoi.
Secara turun-temurun, Tongoi dikenal luas sebagai rumah tidur bagi kaum pria sekaligus pusat edukasi adat yang sangat sakral.
Di dalam Tongoi, para orang tua adat berkumpul untuk memberikan berbagai wejangan, nasihat hidup, dan ilmu pembekalan kepada anak laki-laki muda.
Beberapa pilar kehidupan sehari-hari yang diajarkan di dalam Tongoi meliputi:
* Cara Berbisnis: Kemandirian ekonomi dan tata cara berdagang.
* Cara Berburu: Ketahanan pangan dan keberanian di alam liar.
* Cara Berperang: Strategi pertahanan diri dan perlindungan terhadap tanah ulayat.
* Cara Membayar Mahar: Penghormatan terhadap harkat dan martabat kaum perempuan serta adat pernikahan.
* Cara Menghargai Orang: Tata krama, etika dan nilai-mana dalam menjaga hubungan sosial.
* Cara Berkebun: Keahlian mengelola tanah dan menyatu dengan alam.
* Membagikan Sejarah Leluhur: Transfer pengetahuan agar silsilah dan identitas suku tidak hilang ditelan zaman.
Proses internalisasi nilai ini sengaja dilakukan oleh para orang tua agar generasi muda selalu menjaga kelestarian adat dan budaya secara turun-temurun hingga ke anak cucu kelak.
Bukan Peletakan Batu Biasa
Sebagai tanda dimulainya pembangunan fisik, wadah HAPAK telah melaksanakan prosesi peletakan batu pertama.
Momentum ini berjalan sangat sakral karena masyarakat meyakini bahwa peletakan batu tersebut bukan sekadar simbolis material biasa, melainkan sebuah ikatan suci dan peletakan pondasi bersama arwah para leluhur yang merestui perjalanan generasi penerus di Tanah Amungsa.
Dengan berdirinya Tongoi HAPAK ini, pemuda Amungme, Kamoro, dan lima suku kerabat siap melangkah maju tanpa kehilangan akar budaya mereka. **

















