Mimika Innovation Week 2026 Resmi Dideklarasikan, Pemkab Mimika Gandeng BRIN dan Perguruan Tinggi, Buka Lomba Inovasi untuk Umum
“Jadikan Mimika Innovation Week sebagai ruang diskusi, membagi gagasan, melahirkan pemikiran baru dan kolaborasi dalam memajukan daerah sekaligus menjadikan Mimika sebagai contoh bagi tanah Papua secara keseluruhan,” harapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Mimika Johannes Rettob menjelaskan bahwa pelaksanaan Mimika Innovation Week 2026 merupakan kali kedua kegiatan tersebut digelar. Jika pada tahun 2025 pelaksanaannya masih terbatas di lingkungan internal Pemerintah Kabupaten Mimika dan digagas oleh Bappeda, maka tahun ini kegiatan dibuka secara luas untuk masyarakat umum.
Menurut Johannes, tujuan utama penyelenggaraan MIW adalah memudahkan serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat melalui inovasi yang lahir dari berbagai sektor.
Ia menegaskan bahwa setiap tugas dan program pemerintah harus dilaksanakan berdasarkan hasil riset dan kajian yang terukur.
“Kita tidak bisa membangun dari kampung ke kota tanpa riset mengenai potensi yang ada di kampung. Sesuai hasil riset, mulai tahun 2026 pemerintah akan menjalankan program pembangunan yang dimulai dari kampung,” katanya.
Johannes juga mengungkapkan Mimika menjadi satu-satunya kabupaten di Indonesia yang memiliki riset kesehatan dasar sebagai salah satu instrumen perencanaan pembangunan daerah bidang kesehatan.
Hasil dari perlombaan Mimika Innovation Week nantinya menjadi bahan laporan kepada Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan BRIN sebagai data sekaligus produk inovasi daerah Kabupaten Mimika.
Untuk mendukung program tersebut, Pemkab Mimika akan menyiapkan Rumah Inovasi yang berlokasi di Mal Pelayanan Publik (MPP). Rumah Inovasi akan menjadi wadah bagi masyarakat untuk mendaftarkan karya inovasinya sebelum dipatenkan dan diterapkan secara efektif dalam pelayanan publik.
Setiap inovator nantinya mempresentasikan hasil inovasinya di hadapan BRIDA sebagai bagian dari proses penilaian dan pengembangan.
Johannes menyebutkan setiap OPD diwajibkan menghasilkan minimal dua inovasi daerah. Dengan keterlibatan masyarakat umum, ia memperkirakan akan lahir ratusan inovasi baru sepanjang tahun ini.
Menurutnya, selama ini sebenarnya telah banyak inovasi yang lahir di Timika, namun masih tersebar dan belum terorganisir dengan baik dalam satu wadah yang menjadi kekayaan inovasi daerah.
“Sesuai data semester pertama tahun 2026, sudah terdapat 118 inovasi yang tercatat. Saya yakin dengan adanya lomba inovasi yang dibuka untuk masyarakat umum, jumlah inovasi daerah akan semakin bertambah,” ujarnya.
Lebih lanjut, Johannes menegaskan tantangan pembangunan daerah yang semakin kompleks menuntut pemerintah menghasilkan kebijakan yang berbasis data dan hasil penelitian.
Menurutnya, setiap kebijakan harus dibangun di atas fondasi data, riset, dan kajian ilmiah yang kuat agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara tepat dan berkelanjutan.
Untuk memperkuat pemanfaatan hasil penelitian tersebut, Pemkab Mimika melalui BRIDA menghadirkan aplikasi Sirida Kami (Sistem Riset dan Inovasi Daerah Mimika) yang berfungsi mengintegrasikan berbagai kajian dan data riset dalam satu platform digital.
“Kita tidak bisa lagi bekerja hanya berdasarkan intuisi. Setiap kebijakan harus dilandasi riset yang kuat. Kekayaan alam Mimika justru bisa menjadi bumerang jika tidak dikelola secara cerdas dan ilmiah,” tegas Johannes.
Kehadiran Sirida Kami diharapkan mampu mengakhiri tumpang tindih penelitian, meningkatkan efisiensi perencanaan pembangunan, serta mempercepat pemanfaatan hasil riset sebagai dasar pengambilan keputusan di Kabupaten Mimika. **
















