Mimika Innovation Week 2026 Resmi Dideklarasikan, Pemkab Mimika Gandeng BRIN dan Perguruan Tinggi, Buka Lomba Inovasi untuk Umum
Timika,papuaglobalnews.com – Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) resmi mendeklarasikan Mimika Innovation Week (MIW) 2026 dengan menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), perguruan tinggi, organisasi perangkat daerah (OPD), pemerintah distrik, kelurahan dan kampung.
Deklarasi komitmen bersama MIW 2026 ditandai dengan penandatanganan kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Mimika dengan sejumlah perguruan tinggi, yakni STKIP Hermon, Institut Jembatan Bulan, Politeknik Amamapare dan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH), serta OPD teknis, kepala distrik, perwakilan lurah dan kepala kampung.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Eme Neme Yauware, Selasa 9 Juni 2026, tersebut menjadi momentum memperkuat sinergi dalam membangun ekosistem riset dan inovasi daerah.
Bersamaan dengan itu, Bupati Mimika Johannes Rettob memimpin pembacaan Deklarasi Komitmen Bersama yang diikuti seluruh peserta.
Deklarasi ini dibacakan oleh Bupati John yang diikuti oleh semua peserta.
“Kami berkomitmen menjadikan riset sebagai dasar kebijakan, inovasi sebagai budaya kerja dan kolaborasi sebagai kekuatan pembangunan di Kabupaten Mimika. Dengan semangat Eme Neme Yauware, kita wujudkan Mimika yang Responsif, Enerjik, Terampil, Transparan, Objektif dan Berdaya Saing.”
Mimika Innovation Week 2026 mengusung tema “Membangun Ekosistem Riset dan Inovasi Daerah dalam Mewujudkan Mimika yang Maju, Adaptif dan Berdaya Saing” dengan slogan #InovasiMelajuMimikaMaju.
Plt Kepala BRIDA Mimika, Slamet Sutejo, mengatakan MIW 2026 membuka ruang partisipasi yang lebih luas dengan melibatkan OPD, perguruan tinggi, instansi vertikal, BUMN, pemerintah kampung, media, hingga kelompok disabilitas.
Sebagai bentuk komitmen, setiap OPD diwajibkan menghasilkan minimal dua inovasi sepanjang tahun 2026. Seluruh inovasi yang masuk akan melalui proses kurasi sebelum diumumkan pada 17 Agustus mendatang. Sepuluh inovasi terbaik nantinya dikirim mewakili Kabupaten Mimika pada ajang Innovative Government Award (IGA) 2026 tingkat nasional.
“Kami membuka partisipasi seluas-luasnya agar inovasi yang lahir benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan pembangunan daerah. Ini sejalan dengan capaian inovasi Kabupaten Mimika yang terus meningkat,” ujarnya.
Menurut Slamet, capaian inovasi Mimika dalam penilaian Indeks Inovasi Nasional terus mengalami peningkatan. Dari peringkat 300 pada tahun 2024, Mimika berhasil menembus jajaran 200 besar pada tahun 2025 dan menempati posisi kedua terbaik di Papua.
“Target kita bukan hanya unggul di Papua, tetapi mampu bersaing secara kualitas dengan daerah maju di wilayah Indonesia lainnya,” katanya.
Sementara itu, Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Yopi, menegaskan pembangunan inovasi daerah harus dirancang dengan visi jangka panjang sebagai bagian dari upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, inovasi tidak boleh berhenti pada program-program sesaat atau terjebak dalam siklus politik jangka pendek, melainkan harus menjadi fondasi pembangunan berkelanjutan yang mampu mendorong daya saing daerah di masa depan.
“Inovasi tidak boleh terjebak dalam siklus politik jangka pendek. Harus ada visi hingga 2045, dengan percepatan hilirisasi melalui konsep Rumah Inovasi sebagai pusat layanan terpadu,” tegasnya.
Ia mengapresiasi komitmen Pemerintah Kabupaten Mimika yang membangun inovasi melalui kolaborasi berbagai pemangku kepentingan.
Menurutnya, pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri, tetapi harus melibatkan seluruh stakeholder untuk bersama-sama mengevaluasi dan mendorong kemajuan masyarakat hingga tahun 2045.
Yopi juga mendorong Pemkab Mimika untuk memanfaatkan dukungan dan konsultasi dari BRIN, baik secara langsung maupun daring, sehingga tenaga ahli yang tersedia dapat dioptimalkan dalam menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan sesuai sektor masing-masing.
“Jadikan Mimika Innovation Week sebagai ruang diskusi, membagi gagasan, melahirkan pemikiran baru dan kolaborasi dalam memajukan daerah sekaligus menjadikan Mimika sebagai contoh bagi tanah Papua secara keseluruhan,” harapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Mimika Johannes Rettob menjelaskan bahwa pelaksanaan Mimika Innovation Week 2026 merupakan kali kedua kegiatan tersebut digelar. Jika pada tahun 2025 pelaksanaannya masih terbatas di lingkungan internal Pemerintah Kabupaten Mimika dan digagas oleh Bappeda, maka tahun ini kegiatan dibuka secara luas untuk masyarakat umum.
Menurut Johannes, tujuan utama penyelenggaraan MIW adalah memudahkan serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat melalui inovasi yang lahir dari berbagai sektor.
Ia menegaskan bahwa setiap tugas dan program pemerintah harus dilaksanakan berdasarkan hasil riset dan kajian yang terukur.
“Kita tidak bisa membangun dari kampung ke kota tanpa riset mengenai potensi yang ada di kampung. Sesuai hasil riset, mulai tahun 2026 pemerintah akan menjalankan program pembangunan yang dimulai dari kampung,” katanya.
Johannes juga mengungkapkan Mimika menjadi satu-satunya kabupaten di Indonesia yang memiliki riset kesehatan dasar sebagai salah satu instrumen perencanaan pembangunan daerah bidang kesehatan.
Hasil dari perlombaan Mimika Innovation Week nantinya menjadi bahan laporan kepada Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan BRIN sebagai data sekaligus produk inovasi daerah Kabupaten Mimika.
Untuk mendukung program tersebut, Pemkab Mimika akan menyiapkan Rumah Inovasi yang berlokasi di Mal Pelayanan Publik (MPP). Rumah Inovasi akan menjadi wadah bagi masyarakat untuk mendaftarkan karya inovasinya sebelum dipatenkan dan diterapkan secara efektif dalam pelayanan publik.
Setiap inovator nantinya mempresentasikan hasil inovasinya di hadapan BRIDA sebagai bagian dari proses penilaian dan pengembangan.
Johannes menyebutkan setiap OPD diwajibkan menghasilkan minimal dua inovasi daerah. Dengan keterlibatan masyarakat umum, ia memperkirakan akan lahir ratusan inovasi baru sepanjang tahun ini.
Menurutnya, selama ini sebenarnya telah banyak inovasi yang lahir di Timika, namun masih tersebar dan belum terorganisir dengan baik dalam satu wadah yang menjadi kekayaan inovasi daerah.
“Sesuai data semester pertama tahun 2026, sudah terdapat 118 inovasi yang tercatat. Saya yakin dengan adanya lomba inovasi yang dibuka untuk masyarakat umum, jumlah inovasi daerah akan semakin bertambah,” ujarnya.
Lebih lanjut, Johannes menegaskan tantangan pembangunan daerah yang semakin kompleks menuntut pemerintah menghasilkan kebijakan yang berbasis data dan hasil penelitian.
Menurutnya, setiap kebijakan harus dibangun di atas fondasi data, riset, dan kajian ilmiah yang kuat agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara tepat dan berkelanjutan.
Untuk memperkuat pemanfaatan hasil penelitian tersebut, Pemkab Mimika melalui BRIDA menghadirkan aplikasi Sirida Kami (Sistem Riset dan Inovasi Daerah Mimika) yang berfungsi mengintegrasikan berbagai kajian dan data riset dalam satu platform digital.
“Kita tidak bisa lagi bekerja hanya berdasarkan intuisi. Setiap kebijakan harus dilandasi riset yang kuat. Kekayaan alam Mimika justru bisa menjadi bumerang jika tidak dikelola secara cerdas dan ilmiah,” tegas Johannes.
Kehadiran Sirida Kami diharapkan mampu mengakhiri tumpang tindih penelitian, meningkatkan efisiensi perencanaan pembangunan, serta mempercepat pemanfaatan hasil riset sebagai dasar pengambilan keputusan di Kabupaten Mimika. **
















