Puncak karir akademisnya tercapai pada 4 Juni 2005. Di Auditorium Universitas Cendrawasih, ia memberikan pidato pengukuhan dan dikukuhkan sebagai profesor teologi. Hingga kini, dialah yang mengukir sejarah tertinggi itu pada STFT Fajar Timur. Pidato pengukuhannya berjudul: Penghubung antar Agama Maria dalam Alkitab dan Al-Quran serta Penghormatan terhadapnya dalam Tradisi Kristiani dan Islami.

Konon, ia sudah harus menjadi profesor pada awal 1990an. Namun karena kesalahan administrasi pengukuhan itu baru terwujud pada 2005.

Pada 2009, ketika penulis mulai membantu sebagai tenaga pengajar di STFT Fajar Timur, Nico sudah tidak berstatus sebagai dosen tetap. Namun sumbangsih untuk kampus tak berhenti karena status pekerjaan. Ia terus memberikan kuliah manakalah dibutuhkan dan memberikan masukan yang perlu bagi pengembangan STFT Fajar Timur.

Seringkali ia dibutuhkan karena tenaga pengajar masih tetap tidak mencukupi. Pernah ketika kami meminta beliau mengajar untuk mata kuliah filsafat ketuhanan, beliau sempat bertanya balik, “Apakah kamu sudah mencari seluruh Indonesia?” Meski dengan pertanyaan tersebut, ia tetap menyatakan kebersediaannya.

Pada 11 November 2023, ia mengakhiri kehadirannya di STFT Fajar Timur secara definitif. Karena ia memulainya pada tahun 1983 sebagai pemberi kuliah, maka ia mengakhirinya dengan memberi kuliah umum. Kuliah yang merangkul karya filsafat Kristianinya itu diberi judul: Filsafat Ketuhanan dan Teologi Dasar: Menanyakan Adanya Allah, Sifat-nya dan Dibiarkan-nya Derita di Dunia padahal Ia Mahabaik, (Makalah Seminar Dosen SFTF Fajar Timur, 11 November 2023).

Harus diakui bahwa kehadirannya di STFT Fajar Timur begitu berarti. Ia termasuk yang membangun sistem pendidikan sarjana yang berbasiskan SKS dan memulai membuka diri bagi akreditasi. Pada tahun 1998, di bawah kepemimpinannya sebagai ketua bidang akademik STFT Fajar Timur mendapat akreditasi B.

Di seantero Indonesia, ia dikenal sebagai tokoh psikologi agama. Ia menulis paling kurang empat buku di bidang psikologi tersebut. Secara khusus di dalam kekristenan ia dikenal sebagai seorang teolog yang handal secara khusus di bidang teologi sistematik. Karya-karya di bidang teologi merupakan karya yang monumental yang amat komprehensif dan untuk sebagian dapat dikatakan tak tergantikan. Di samping karya-karya teologi, ia juga memberikan sumbangsing di dalam bidang filsafat secara khusus filsafat agama Kristiani dan metafisika.

Karya-karyanya tidak hanya berurusan dengan tiga bidang tersebut. Ia adalah seorang religius yang banyak memberi kontribusi pada bidang hidup religius secara khusus kefransiskan (ilmu yang terkait dengan spiritualitas fransiskan).

Ia menulis baik buku maupun tulisan-tulisan lain yang terkait dengan kehidupan fransiskan dan hidup religius pada umumnya. Pada bidang ini, ia tidak hanya memberikan kontribusi pada bidang kognitif, tetapi ia adalah orang terlibat langsung dalam menghidup kitab suci seturut teladan St. Fransiskus Asisi. Tak mengherankan selain di bidang akademis, ia banyak mencurahkan waktunya untuk memberikan perhatian pada anak yatim piatu dan para janda di bawah Yayasan Yapukepa, di wilayah Sentani, Kabupaten Jayapura.

Di daerah inilah, Biara Santo Antonius, ia berkediaman dan mengisi hari-hari hidupnya menerjemahkan karya-karya teologis, secara khusus Agustinus dan melayani orang-orang kecil. Semua itu dijalankan dengan sebuah irama hidup yang amat jelas dan konsisten.

Ia adalah orang yang hidup dengan program yang jelas. Salah satu contoh yang paling jelas adalah bahwa ia merencanakan kuliah dan menjalankan kuliah sesuai dengan waktu dan bahan yang disediakan. Bahan yang disediakan selalu diselesaikan tepat pada saat lonceng tanda kuliah berakhir. Walaupun demikian, ia adalah orang yang jarang untuk berekreasi.

Di pesawat pada saat perjalanan dan di pinggir pantai pada saat rekreasi, ia masih sibuk dengan pekerjaan mahasiswa atau skripsi yang harus diperiksa. Ada yang berguyon bahwa rekreasinya adalah mengendarai mobil.

Kembali pada karya-karya di bidang keilmuan, karya-karyanya menyebar dalam berbagai bidang. Jika merunut pada karya besarnya, Ia menghasilkan karya intelektual yang bermutu tinggi. 12 buku pribadi,  4 buku bersama,  15 Journal dan 53 tulisan lainnya.

Ia pada awal tahun 1980 berkecimpung dalam bidang psikologi, yang kemudian diperbaharui lagi pada tahun 2022. Selanjutnya, pada pertengahan hingga akhir tahun 1980, ia memberikan perhatian pada bidang filsafat. Pada tahun 1990, ia berkonsentrasi secara luar biasa pada bidang teologi.

Setelah kembali ke negeri Belanda, tak banyak informasi lagi yang diketahui selain satu dua cerita dan salam. Pada 12 April, Minggu pagi, 2026 kita mendapat informasi bahwa ia telah dipanggil saudari maut, sebutan para Fransiskan untuk kematian, yang dilihat sebagai transitus ke kelahiran ke dalam keabadian. Ia meninggalkan kita dari muka bumi ini secara fisik pada 11 April 2026 di negeri Belanda pada usia ke 86 tahun.

Simpulan: Sang Itinerium Mentis in Deum

Wajar pada akhirnya hidupnya kita menyimpulkan siapa dia. Kehidupannya memperlihatkan itinerarium mentis in Deum. Jiwa rasional dan jiwa kehendaknya adalah sebuah peziarahan menuju pada yang ilahi. Ia memberikan kesaksian intelektual yang amat sistematis, konsisten, koheren dan mendalam. Kesaksian intelektual itu beriringan secara seimbang dengan kerendahan hati pelayanan yang luar biasa. Pun orang yang biasa menipunya tetap dilayaninya dengan kasih yang sama.

Ia terdidik secara filsafati. Namun filsafatnya adalah filsafat yang berkerangka rohani. Ini adalah warisan dari style pemikiran Fransiskan. Abad pertengahan yang tak memisahkan diri dari model neoplatonis Agustinian.  Filsafat adalah pelayan teologi sebagai ilmu tertinggi. Berkaca pada semangat Bonaventura, Tuhan itu pasti. Jika kita hendak mempertanggungjawabkan keberadaan Tuhan, kita sudah memiliki sensus akan yang ilahi. Sensus itu sudah terpatri di dalam jiwa. Pembuktian ala Thomistik hanyalah peneguhan terhadap kerinduan asali jiwa untuk beristiriahat di damaiNya. Kenyataan kosmik adalah jejak dan gambaran  yang substansinya sudah dikenal jiwa, yakni yang ilahi.

Peta kosmik bukanlah data tetapi pengalaman eksistensial yang telah dijejaki dan dihidupi. Hidup saudara Nico S. Dister memperlihatkan secara sungguh hidup kenyataan orang yang beriman dan berilmu dalam kerendahan hati pelayanan akademis dan sosial kemasyarakatan yang profesionalismenya tiada tara. (*)

Tulisan ini diambil dari www.keuskupantimika.org.