Menavigasi Persaingan Geopolitik Global: Dari Trump ke Indo-Pasifik, Papua sebagai Kunci Strategi Indonesia
Oleh: Johanes E.S. Wato (Doctoral Researcher, University of Bonn (BIGS-OAS, Southeast Asian Studies)
KEBANGKITAN rivalitas global dan pergeseran kebijakan AS di era Trump menempatkan Indonesia dan Papua di persimpangan kedaulatan, ekonomi, dan keamanan di Indo-Pasifik.
Menjelang tahun 2026, tatanan internasional kembali menegaskan politik kekuatan sebagai motor utama. Liberalisme global pascaperang kini bergeser menuju rivalitas multipolar, di mana persaingan ekonomi, proteksionisme, dominasi teknologi, serta penggunaan kekuatan, baik langsung maupun tidak langsung, kembali menjadi instrumen sentral hubungan internasional.
Kebangkitan Cina dan kembalinya Rusia mendorong Amerika Serikat, arsitek tatanan dunia selama tujuh dekade terakhir, menuju unilateralisme strategis untuk mempertahankan zona pengaruhnya. Dinamika ini terlihat, misalnya, dalam intervensi AS di Venezuela dan klaim terkait Greenland di Arktik. Semua ini menimbulkan tantangan besar bagi Indonesia sebagai negara pivot di Indo-Pasifik yang bertekad menjaga kedaulatan dan kemerdekaan diplomatiknya.
Evolusi Cara Intervensi: Dari Panama hingga Kini
Operasi AS di Venezuela mengingatkan pada intervensi di Panama pada 1989, ketika Washington menggunakan kekuatan militer untuk mengamankan kepentingan strategisnya di Amerika Latin. Kini, intervensi negara dilakukan dengan cara lebih halus dan multidimensi:
- Intervensi militer terbatas atas alasan keamanan atau kemanusiaan.
- Tekanan ekonomi melalui sanksi dan isolasi finansial.
- Delegitimasi rezim yang dianggap lawan.
- Pengendalian narasi global terkait demokrasi dan stabilitas.
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, model ini menjadi peringatan strategis: kedaulatan nasional tetap rentan meski tanpa keterlibatan langsung dalam konflik bersenjata, karena tekanan ekonomi, diplomatik, dan naratif bisa sama mengganggunya.
Arktik dan Hak Maritim: Front Global
Selain Indo-Pasifik dan Amerika Latin, Arktik kini menjadi arena kunci rivalitas geopolitik. Klaim atas Greenland menunjukkan wilayah ini menarik perhatian strategis global, baik karena jalur maritim baru, sumber daya alam, maupun posisi strategis dalam kompetisi energi dan militer.
Dinamika ini berdampak global, termasuk bagi Indonesia. Persaingan kekuatan besar di berbagai front memperluas panggung geopolitik dunia dan menegaskan relevansi kebijakan luar negeri Indonesia yang menavigasi antara blok untuk menjaga otonomi strategis. Sebagai negara kepulauan, Indonesia juga berkepentingan agar hukum laut internasional (UNCLOS) dihormati, karena interpretasi sepihak bisa memengaruhi kedaulatannya sendiri.
Dampak Global bagi Indonesia: Ekonomi dan Keamanan
Tekanan Ekonomi dan Energi
Ketidakpastian geopolitik, termasuk konflik di negara eksportir energi seperti Venezuela, menyebabkan fluktuasi tajam harga minyak dan gas global. Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi Indonesia sangat terkait dengan dinamika internasional. Untuk menghadapinya, Jakarta perlu:
- Mempercepat diversifikasi sumber energi, termasuk energi terbarukan.
- Mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.
- Memperkuat ketahanan ekonomi domestik menghadapi guncangan pasar global.
Penguatan Wawasan Nusantara
Dalam iklim ketidakpastian ini, Indonesia menegaskan kembali Wawasan Nusantara sebagai basis geopolitik nasional, berlandaskan integritas wilayah dan kedaulatan. Doktrin ini menjadi alat perlindungan terhadap tekanan yang dikemas sebagai isu keamanan atau demokrasi.
Peran di Forum Internasional
Situasi saat ini memberi peluang bagi Indonesia untuk berperan lebih berpengaruh di organisasi internasional, termasuk PBB. Indonesia bisa menjadi suara negara berkembang yang menghadapi tekanan eksternal dan mendorong tatanan dunia yang lebih adil, seimbang, dan menghormati kedaulatan negara.
Papua: Jantung Geopolitik Indonesia
Papua telah menjadi titik vital geopolitik Indonesia di Indo-Pasifik, baik karena sumber daya alam maupun posisi strategisnya. Tambang Grasberg di Tembagapura, salah satu cadangan tembaga dan emas terbesar di dunia, tetap menjadi bagian dari rantai nilai global meski ada dominasi modal dan teknologi asing. Cadangan gas alam di Teluk Bintuni (Tangguh LNG) serta cadangan nikel dan mineral penting lainnya menegaskan pentingnya ekonomi wilayah ini.
Namun, ketergantungan pada modal, teknologi, dan pasar luar seringkali lebih menguntungkan pihak eksternal dibanding ekonomi lokal atau kedaulatan nasional. Dampak sosial dan lingkungan, relokasi komunitas adat, serta degradasi ekologis menambah kerentanan wilayah ini.
Papua lebih dari sekadar sumber bahan mentah: Pulau Biak memiliki kepentingan geostrategis, termasuk keberadaan pangkalan udara Manuhua dekat Darwin (Australia) dan Guam (AS). Beberapa laporan 2025 menyebut ketertarikan strategis Rusia di lokasi ini, memicu kekhawatiran mitra regional dan Barat. Jakarta menegaskan tidak akan memberikan pangkalan militer asing permanen di Papua.
Respons Indonesia dan Strategi Nasional
Menghadapi tekanan global, Indonesia mempertahankan politik non-blok aktif dan larangan konstitusional terhadap pangkalan militer asing. Namun, ruang kerjasama sipil bilateral strategis tetap dibuka. Inisiatif seperti pengembangan Biak sebagai platform antariksa dan teknologi menunjukkan keinginan Jakarta memanfaatkan keunggulan geografis tidak hanya untuk sumber daya, tetapi juga inovasi dan teknologi masa depan.
Persaingan geopolitik di Papua jauh melampaui isu ekonomi, wilayah ini menjadi titik kunci dalam persaingan global, menggabungkan akses ke sumber daya, posisi geostrategis, dan peluang teknologi. Papua harus dipandang sebagai elemen sentral strategi geopolitik nasional, yang menentukan posisi strategis Indonesia di abad ke-21.
Papua: Titik Balik Strategi Indonesia
Awal 2026 menandai tahap baru tantangan geopolitik bagi Indonesia. Intervensi AS di Venezuela dan ketegangan di Arktik menunjukkan logika kekuatan kembali mendominasi hubungan internasional. Dalam konteks ini:
- Indo-Pasifik menjadi arena utama persaingan global;
- Papua menjadi pivot strategis nasional;
- Indonesia berada di persimpangan kedaulatan, stabilitas, dan tekanan global.
Langkah politik Indonesia hari ini akan menentukan posisi strategisnya di panggung dunia yang terus bergeser. Jika Panama adalah pelajaran sejarah dan Venezuela adalah peringatan kontemporer, maka Papua adalah kunci masa depan Indonesia. Pengelolaan yang adil, berdaulat, dan inklusif akan memungkinkan Indonesia tetap menjadi aktor strategis independen di dunia yang kompetitif.
Artikel ini menegaskan bahwa geopolitik bukan hanya soal politik luar negeri, tetapi telah menjadi isu sentral bagi kedaulatan, ekonomi, dan keadilan nasional Indonesia. Papua, sebagai wilayah yang sangat strategis di Indo-Pasifik dan bahkan bagi panggung global, harus diperlakukan bukan sebagai anak tiri namun dengan sepenuh hati dan penuh kehati-hatian. Pembangunan yang adil, berkelanjutan, dan menempatkan manusia Papua sebagai subjek utama bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Dalam dinamika geopolitik dunia yang sulit diprediksi, segala kemungkinan bisa terjadi dan cara Indonesia mengelola Papua akan menentukan posisi strategis negara ini di masa depan. **














