LEMASKO Pertanyakan Keseriusan Polres Mimika Ungkap Pelaku Pembunuhan di Kilo 10, Desak Kapolda Papua Tengah Bentuk Tim Investigasi
Timika,papuaglobalnews.com – Lembaga Masyarakat Adat Suku Kamoro (LEMASKO) mempertanyakan keseriusan Polres Mimika dalam mengungkap pelaku pembunuhan Ronaldo Orkaipukaro (26) yang terjadi di Jembatan Kilo 10 Kadun Jaya pada 1 Mei 2026 lalu.
Pasalnya, hingga hari ke-9 pasca kejadian, pihak LEMASKO maupun keluarga korban belum mendapat informasi terkait keberadaan pelaku. Atas lambannya penanganan kasus tersebut, LEMASKO mendesak Kapolda Papua Tengah membentuk tim investigasi guna membantu Polres Mimika mempercepat pengungkapan pelaku pembunuhan tersebut.
Desakan ini disampaikan Wakil Ketua I Lembaga Masyarakat Adat Suku Kamoro (LEMASKO), Marianus Maknaepeku, Sabtu 9 Mei 2026.
Menurut Marianus, permintaan agar Kapolda Papua Tengah mengambil alih kasus ini menunjukkan bahwa lembaga adat menilai Polres Mimika belum mampu mengungkap pelaku, kemungkinan karena banyaknya persoalan yang harus ditangani di Timika.
“Sebagai masyarakat adat, sesuai hukum adat yang diwariskan kepada orang Kamoro, kami tidak diajarkan untuk saling membalas dalam kasus pembunuhan. Karena itu kami mempercayakan sepenuhnya persoalan ini kepada penegakan hukum positif,” ujarnya.
Ia mengatakan, dalam peristiwa tersebut terdapat banyak saksi di lapangan yang dapat dimintai keterangan guna membantu mengungkap kasus itu.
Marianus mengaku pihak keluarga korban terus mempertanyakan perkembangan penanganan kasus tersebut oleh aparat kepolisian.
“Karena sampai saat ini kami juga belum menerima informasi dari pihak Polres. Kira-kira langkah hukum apa yang polisi ambil. Apakah perlu kita lakukan perang lawan suku baru polisi bergerak? Ini tidak boleh dibiarkan berlama-lama, harus ungkap pelakunya,” tegasnya.
Ia menambahkan, masyarakat Suku Kamoro bukan kelompok yang suka saling membalas, sehingga aparat penegak hukum diharapkan serius menangani persoalan tersebut.
Marianus bahkan meyakini apabila kasus serupa menimpa pihak pelaku, maka situasi di Timika kemungkinan sudah terjadi kekacauan besar dan saling serang.
“Tapi orang Kamoro tidak mau hal-hal itu terjadi. Apalagi yang kurang baik dari kami orang Kamoro. Datang tinggal di Timika mencari hidup dan mengambil tanah orang Kamoro tapi bunuh lagi kami orang Kamoro. Masih kurang baik apanya kami orang Kamoro terhadap masyarakat luar datang tinggal di Timika ini?” katanya dengan nada kesal.








