Nabire,papuaglobalnews.com – Di tengah panasnya siang dan kerumunan yang padat di halaman Kantor DPR Papua Tengah, Ketua IV DPR Papua Tengah John NR Gobay berdiri berhadapan langsung dengan massa mahasiswa dan pemuda yang datang membawa aspirasi, Kamis 23 Juli 2026.

Suasana tegang namun tertib. Para mahasiswa yang sebagian besar mengenakan pakaian merah dan membawa spanduk, megaphone, serta berkas aspirasi, mengepung lingkaran tempat John NR Gobay berdiri. Ada yang merekam dengan ponsel, ada yang berorasi, ada pula yang hanya diam mendengarkan dengan raut wajah penuh harap dan lelah.

Di tangan John Gobay terlihat berkas yang diserahkan langsung oleh perwakilan mahasiswa, simbol bahwa suara mereka akhirnya sampai di meja pimpinan dewan.

Dalam momen itu mantan DPR Papua ini tidak memilih untuk berbicara dari atas mimbar atau dari balik pagar. Ia turun ketemu di tengah massa. Ia menerima aspirasi dengan kedua tangan, menatap mata perwakilan mahasiswa, dan mengangguk sebagai tanda bahwa ia mendengar.

Gerak tubuhnya tenang tetapi tegas. Ia memahami bahwa yang datang bukan sekadar sekelompok orang yang marah, tetapi anak-anak Papua yang sedang menyuarakan keresahan tentang tanah mereka, tentang konflik, tentang pendidikan, tentang masa depan. Karena itu ia memilih jalur dialog, bukan pengusiran.

Dari pengeras suara yang terdengar di video, pimpinan DPR Papua Tengah saat itu juga menyampaikan bahwa aspirasi yang masuk akan ditindaklanjuti. Disebutkan bahwa aspirasi-aspirasi sebelumnya sudah diteruskan ke DPR RI pada Bulan Mei, dan DPR Papua Tengah meminta agar dibuat Rapat Dengar Pendapat Umum di Komisi Satu dan Komisi Tiga DPR RI.

Tujuannya jelas, agar persoalan konflik yang sedang terjadi di daerah seperti Kabupaten Intan Jaya, Puncak, Puncak Jaya, dan Paniai bisa dibicarakan langsung di tingkat nasional. Bahkan disebutkan harapan agar Panglima TNI dan Menteri Pertahanan dipanggil dalam forum itu, supaya ada solusi yang nyata, bukan hanya wacana.

John Gobay sebagai Ketua IV berada dalam posisi penting dalam proses ini. Tugasnya bukan hanya menerima kertas, tetapi menjadi jembatan antara suara rakyat di bawah dengan mekanisme politik di atas. Ketika ia menerima berkas itu, ia menerima juga tanggung jawab moral. Tanggung jawab untuk membaca setiap poin, untuk membawa ke dalam rapat internal DPRP, untuk berkoordinasi dengan pimpinan lain, dan untuk memastikan aspirasi tidak berhenti sebagai arsip.

Isi aspirasi mahasiswa Papua Tengah yang disampaikan hari itu berpusat pada situasi kemanusiaan dan keamanan di wilayah pegunungan. Mereka menyuarakan keprihatinan atas konflik bersenjata yang terus berulang, atas warga sipil yang menjadi korban, atas sekolah yang tutup, atas akses kesehatan yang terhambat, dan atas rasa takut yang membuat masyarakat mengungsi dari kampung halaman. Mereka juga menyoroti ketidakadilan dalam pembangunan, kurangnya keterlibatan Orang Asli Papua (OAP) dalam pengambilan keputusan, dan lambannya respon negara terhadap penderitaan di daerah konflik. Bagi mahasiswa, demo ini bukan untuk membuat gaduh. Ini adalah bentuk cinta kepada tanah Papua. Ini adalah bentuk tanggung jawab intelektual. Mereka rela berpanas, rela berteriak, rela menghadapi aparat, karena mereka percaya negara ini masih bisa mendengar.

John Gobay merespon dengan bahasa yang menenangkan. Ia meminta massa untuk tetap damai. Ia mengingatkan bahwa kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah, tetapi dialog dan bukti data akan membuka pintu di Jakarta.

Ia juga mengakui bahwa DPR Papua Tengah sudah berulang kali mengirim surat dan meminta audiensi ke DPR RI, tetapi sampai hari itu belum ada jawaban pasti. Karena itu, ia berjanji akan kembali mendorong, akan kembali mengetuk pintu Senayan, dan akan terus mengawal agar aspirasi ini tidak dipetieskan.

Momen penyerahan aspirasi ini penting karena menunjukkan dua hal. Pertama, mahasiswa masih percaya pada institusi. Mereka tidak membakar, tidak merusak. Mereka datang dengan tertib, membawa dokumen, dan meminta untuk didengar. Kedua, ada anggota dewan yang bersedia turun dan berdiri sejajar. John Gobay tidak bersembunyi. Ia hadir, ia menerima, ia mencatat. Dalam politik Papua yang sering diwarnai curiga, kehadiran fisik seperti ini punya arti besar. Ia membangun sedikit kepercayaan yang sudah lama retak.

Setelah berkas diterima, suasana sedikit mereda. Beberapa mahasiswa tampak lega. Beberapa lainnya masih berdiskusi di pinggir. Wartawan dan warga yang menonton juga ikut merekam. John Gobay kemudian dikelilingi oleh staf dan anggota dewan lain untuk berkoordinasi langkah selanjutnya. Yang jelas, berkas itu tidak akan berhenti di tangannya. Ia harus diteruskan, dibahas dalam rapat pimpinan, dibuatkan rekomendasi, dan dikirim ke pusat bersama dengan surat resmi DPR Papua Tengah.

Yang perlu diingat dari peristiwa ini adalah bahwa suara mahasiswa adalah alarm. Ketika mereka turun ke jalan, itu artinya ada masalah yang tidak selesai di ruang rapat. Ketika mereka membawa nama Intan Jaya, Puncak, Paniai, dan Puncak Jaya, itu artinya ada darah dan air mata di sana yang belum kering. Karena itu respon John Gobay dan DPRP harus cepat, harus konkret, dan harus sampai ke pengambil kebijakan di Jakarta.

Ke depan, publik akan menunggu tindak lanjut. Apakah RDPU di DPR RI benar-benar dijadwalkan? Apakah ada panggilan terhadap kementerian terkait? Apakah ada tim khusus untuk memantau situasi di lapangan? Apakah rekomendasi DPRP akan memuat poin penghentian kekerasan terhadap warga sipil dan pembukaan ruang dialog damai? Semua itu akan menjadi ukuran keseriusan.

John Gobay, sebagai Ketua IV, kini memegang salah satu kunci. Di pundaknya ada harapan mahasiswa, ada harapan orang tua di kampung yang menitipkan anaknya untuk kuliah, ada harapan masyarakat yang ingin hidup tenang. Menerima aspirasi adalah langkah pertama. Langkah kedua adalah memperjuangkannya sampai ada hasil.

Hari itu, di bawah terik matahari, di antara kerumunan dan suara megaphone, terjadi satu pertemuan penting antara wakil rakyat dan generasi muda. Pertemuan yang mengingatkan kita bahwa demokrasi masih hidup ketika ada yang mau mendengar dan ada yang berani bersuara. Dan bahwa masa depan Papua Tengah akan ditentukan bukan hanya oleh kebijakan di Jakarta, tetapi juga oleh keberanian anak-anak Papua untuk berbicara, dan keberanian para pemimpin seperti John Gobay untuk mendengarkan dan bertindak. **