Ketika Kuasa Memilih Karton Ketimbang Wajahnya Sendiri
Yang membuat karton menarik sebagai metafora adalah sifat gandanya: ia ringan sekaligus dipaksakan berat, murah sekaligus diperlakukan sebagai sesuatu yang sakral. Begitu pula narasi kekuasaan di wilayah seperti Intan Jaya, Puncak, Yahukimo. Ia diproduksi murah sekaligus menggetarkan, cepat, dan berulang, tetapi dituntut untuk ditelan sebagai kebenaran resmi tentang keadaan di sana. Ketika kenyataan di lapangan berbeda dari yang digambarkan, yang runtuh bukan hanya kredibilitas satu pernyataan, melainkan kepercayaan terhadap seluruh aparatur yang memproduksinya.
Di titik ini, ada benang yang menyambungkan karton Iran dengan Minke dalam Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer (1980). Minke hidup di bawah kolonialisme yang juga gemar memainkan simbol: gelar, seragam, tata krama, dan bahasa resmi dipakai untuk menegaskan siapa yang berkuasa dan siapa yang harus tunduk. Tapi seperti karton, simbol-simbol itu kosong begitu diuji oleh kenyataan. Oleh kecerdasan Minke yang menembus batas-batas yang seharusnya menahannya, oleh keberanian yang tidak bisa dijelaskan oleh hierarki kolonial. Pramoedya, lewat nasib Minke, sudah lebih dulu membongkar logika yang sama: kuasa yang gemar bersembunyi di balik simbol biasanya sedang menyembunyikan kerapuhannya sendiri.
Papua, dalam pengertian ini, adalah tempat di mana karton itu paling gampang robek. Ketika operasi keamanan terus berlangsung di Intan Jaya, Puncak, Yahukimo dan berbagai remote wilayah Papua: ketika keluarga kehilangan sanak dan warga hidup dengan kewaspadaan sebagai rutinitas, narasi “aman dan terkendali” tidak bisa bertahan lama di hadapan pengalaman langsung warga. Di sanalah karton compang-camping: bukan karena sengaja dirobek, melainkan karena kenyataan tidak pernah benar-benar cocok dengan ukurannya.
Barangkali inilah pelajaran yang bisa ditarik dari Iran, Indonesia, dan Papua sekaligus: kekuasaan yang sehat tidak butuh karton, karena ia berani diuji langsung oleh mereka yang dikuasainya. Kekuasaan yang gemar bersembunyi di balik simbol, entah itu potongan karton di Teheran atau kata “kondusif” yang diulang tentang Papua sesungguhnya sedang mengakui, secara diam-diam, bahwa dirinya tidak cukup percaya diri untuk hadir sebagai dirinya sendiri. Dan sebuah republik yang dewasa seharusnya malu jika kekuasaannya hanya sanggup berdiri selama ia diwakili oleh sesuatu yang bisa dilipat dan disimpan kembali ke gudang. (*)













