“Pendataan soal ini rawan dan mereka tidak boleh sendiri. Bila tim pendataan turun sendiri ke kampung akan berhadapan dengan masyarakat yang tidak terima dengan pendataan ini,” jelasnya.

Atas informasi tersebut, lanjut Selfi, solusi yang ditawarkan pemerintah kampung agar tim pendataan turun di lapangan bertepatan dengan latihan dayung atau renang di Mile 21.

Sementara Kepala Kampung Nawaripi, Nobertus Ditubun menuturkan pendataan ini sangat penting karena merupakan program dari Kemendikdasmen.

“Khusus Kampung Nawaripi jumlah anak putus sekolah cukup tinggi, tapi rata-rata mereka sudah kawin. Meski demikian, pendidikan tidak mengenal usia. Setidaknya Kemendikdasmen ada program buat mereka, sehingga mereka dibekali dengan ijazah dari Kemendikdasmen. Artinya jika output dari pendataan ini Kemendikdasmen memperkuat lembaga informal di setiap kampung yang dapat menjalankan pendidikan bagi mereka yang putus sekolah mulai dari tingkat SD, SMP hingga SMA/SMK,” jelas Nobertus.

Nobertus berharap setelah pendataan harus ada aksi nyata yang berpihak kepada mereka dan jangan sampai data-data dari kampung hanya disimpan sepanjang hayat di Dasbor Kemendikdasmen tanpa ada tindakan nyata di lapangan. **

Catatan Redaksi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer

Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.

Hak Jawab & Koreksi Berita

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.