Is All About Trump
Oleh : Laurens Minipko
Board of Peace
Ia datang ke Davos membawa kata besar: PERDAMAIAN.
Ia pulang membawa sesuatu yang lebih kecil: namanya sendiri.
Donald Trump baru saja membentuk Board of Peace.
Ia menunjuk dirinya sendiri sebagai ketua. Tanpa batas waktu. Pasti bukan sementara. Bukan karateker. Bukan pula enam bulan. Juga bukan setahun. Lebih dari itu? Bisa jadi seumur hidup.
Dunia terkejut. Meskipun sesudahnya mereka bertepuk tangan.
Tapi tidak sepenuhnya heran.
Yang hadir Netanyahu.
Yang absen Palestina. Pemilik tanah.
Pidato-pidato panjang disodorkan. Anehnya, korban 70 ribu jiwa pemilik tanah Gaza tidak masuk slide.
Indonesia ikut duduk. Kursinya rapi. Meja bundar. Tapi arah pembicaraan lurus ke satu orang.
Donald Trump.
Trump yang Bicara
Dalam politik, perdamaian kadang hanya nama lain dari keteraturan. Dan keteraturan sering kali dikelola oleh orang-orang yang sudah saling mengenal. Bisa jadi teman sekolah dulu. Sepermainan. Setim sukses.
Board of peace. Namanya tidak asing, namun dibikin seolah-olah baru.
Board of peace katanya untuk Gaza.
Namun Gaza tidak duduk di meja itu.
Yang duduk justru Netanyahu.
Yang bicara Trump.
Mata dunia terbelalak. Kok, bisa!
Tidak ada yang ilegal. Semua sah. Semua bertanda tangan. Berbayar. Kisaran 16 triliun dalam rupiah.
Di Davos, ini disebut terobosan global.
Di banyak tempat lain, ini disebut revitalisasi.
Ada juga yang menyebut personal power.
Sederhananya kuasa satu orang. Trump. Titik.
Indonesia ikut masuk. Duduk dengan tenang. Berharap bisa menyisipkan suara keadilan untuk Gaza di antara mekanisme yang sudah jadi.
Pertanyaan sederhana: apakah kehadiran otomatis berarti berpengaruh? Atau hanya legitimasi?
Jaga Jarak
Pertanyaan seperti itu tidak hanya relevan untuk forum internasional. Ia sering muncul lebih dekat dari yang kita kira. Misalnya di daerah.
Kadang sebuah perusahaan diisi orang baru untuk revitalisasi dan efisiensi. Untuk profesionalisme. Untuk mengelola aset publik. Orang yang sudah dikenal sejak lama.
Tidak ada aturan yang dilanggar. Tidak ada pasal yang terlewati. Hanya ada satu hal yang pelan-pelan menghilang: JARAK.
Jarak antara kekuasaan dan keluarga.
Jarak antara kebijakan dan kepentingan.
Jarak yang seharusnya dijaga, tapi sering dianggap tidak penting.
Forum Perdamaian atau Kontrol
Trump menyebut Board of Peace sebagai forum perdamaian. Namun banyak yang membaca itu sebagai forum kontrol. Ada tarif dagang. Ibarat kartu As.
Bukan karena niatnya buruk.
Tapi karena strukturnya terlalu rapat.
Terlalu tertutup.
Terlalu personal.
Dalam ekonomi politik, ini bukan hal baru. Kekuasaan cenderung mencari wajah yang familiar. Kepercayaan sering dikalahkan oleh kedekatan.
Masalahnya bukan pada siapa yang duduk. Tapi, mengapa ia duduk di situ?
Apakah karena kapasitas, profesionalitas? Atau karena akses?
Gaza hari ini sedang diuji oleh narasi besar: rekonstruksi dibutuhkan bukan gedung baru, melainkan kemerdekaan.
Di tingkat lokal, narasinya lebih kecil.
BUMD, komisaris, direktur, efisiensi dan kerja.
Namun rakyat kecil juga punya bisikan serupa: yang kami butuhkan bukan jabatan untuk orang dekat, melainkan rasa adil.
Keadilan tidak selalu membutuhkan pidato. Kadang ia hanya butuh satu hal sederhana: jarak yang sehat.
Trump mungkin tidak peduli dengan jarak itu. Ia punya kekuasaan global.
Jaga Kepercayaan Publik
Di daerah, kita seharusnya masih peduli. Karena yang dikelola bukan geopolitik, melainkan kepercayaan publik. Dan kepercayaan, sekali rusak, tidak bisa direkonstruksi seperti gedung. **




































