Naik turunnya harga daging di pasar tergantung dari faktor suplainya. Persediaan banyak dengan sendirinya harga mulai turun dan persediaan terbatas kebutuhan tinggi harga juga ikut naik.

Ia berharap populasi babi di Mimika semakin banyak guna memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat dengan harga terjangkau.

Terkait keluhan penjual yang juga peternak mahalnya harga pakan, Sabelina mengakui secara nasional harganya memang sudah tinggi lantas bahan baku lebih banyak diimpor dari luar negeri.

Dikatakan, saat ini pemerintah sudah mulai berupaya membina bagaimana peternakan mengolah pangan alternatif dari bahan lokal seperti dedak, konsentrat dan jagung dengan harapan dapat menekan biaya. Namun, menjadi kendala bahan bakunya baik dedak, konsentrat dan jagung masing didatangkan dari luar Papua.

Ia sangat berharap kerjasama dengan para petani jagung tahun depan dapat berjalan maksimal agar kebutuhan persediaan jagung dapat diambil dari lokal.

Berkaitan dengan ini, Sabelina menegaskan sekarang pemerintah lebih berkosentrasi menormalkan populasi babi. Mengingat jumlahnya saat ini belum mencapai populasi awal sebelum wabah kurang lebih 13 ribu ekor.

Sabelina menambahkan bibit babi yang ada saat ini bersumber dari 300 ekor indukan milik peternak yang masih selamat dari wabah, termasuk 30 induk dari unit pembibitan Disnak-Keswan di SP6. Saat ini harga anak babi oleh peternak dijual Rp3 juta perekor dari sebelumnya Rp4-5 juta. Sementara dari unit pembibitan Disnak-Keswan harganya lebih murah karena subsidi pemerintah. **