Timika,papuaglobalnews.com – Harga daging babi segar yang dijual oleh pedagang di Pasar Sentral kini mulai turun. Sebelumnya periris Rp250 ribu kini menjadi Rp150-Rp180 ribu. Sedangkan daging babi freezer dijual perpotong Rp150 ribu.

Hal ini disampaikan para penjual daging babi di Lapak Daging Babi Pasar Sentral di hadapan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Mimika dalam pemantauan harga daging, bumbu dampur, sayur dan buah-buahan, Kamis 4 September 2025.

Di hadapan Frans Kambu, Plt. Asisten II Setda Mimika didampingi Sabelina Fitriani, Kepala Disnak-keswan Mimika, para penjual menyampaikan keluhan masih tingginya harga daging babi dengan alasan harga pembelian babi hidup perekor ukuran besar masih mahal tembus Rp13-15 juta. Para peternak lepas hewan ternaknya dengan kisaran belasan juta disebabkan biaya pakan ukuran 50 kilo  perkarung jenis 551 Rp600 ribu.

Kepada TPID, para penjual meminta pemerintah memberikan bantuan subsidi pakan kepada peternak supaya babi yang dihasilkan dapat dijual dengan harga sedikit murah.

Sabelina Fitriani menjelaskan, untuk saat ini stok bibit babi sekitar 6000 an ekor dan babi dewasa siap panen 2000-3000 ekor.

Ia mengakui, dengan banyaknya babi dewasa ini persediaan dagingnya untuk Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2025 ini sudah bisa terpenuhi. Jumlah babi tersebut tersebar di ribuan peternak yang ada di wilayah Distrik Mimika Baru dan Wania.

Sabelina mengungkapkan masih mahalnya harga daging babi ini disebabkan kekosongan persediaan akibat wabah African Swine Fever (ASF) yang menyerang ribuan ekor babi pada tahun 2024 lalu.

“Sekarang sudah masuk masa pemulihan dan populasi babi perlahan naik. Kedepan dengan semakin banyak babi otomatis harganya kembali normal seperti semula,” jelasnya.

Naik turunnya harga daging di pasar tergantung dari faktor suplainya. Persediaan banyak dengan sendirinya harga mulai turun dan persediaan terbatas kebutuhan tinggi harga juga ikut naik.

Ia berharap populasi babi di Mimika semakin banyak guna memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat dengan harga terjangkau.

Terkait keluhan penjual yang juga peternak mahalnya harga pakan, Sabelina mengakui secara nasional harganya memang sudah tinggi lantas bahan baku lebih banyak diimpor dari luar negeri.

Dikatakan, saat ini pemerintah sudah mulai berupaya membina bagaimana peternakan mengolah pangan alternatif dari bahan lokal seperti dedak, konsentrat dan jagung dengan harapan dapat menekan biaya. Namun, menjadi kendala bahan bakunya baik dedak, konsentrat dan jagung masing didatangkan dari luar Papua.

Ia sangat berharap kerjasama dengan para petani jagung tahun depan dapat berjalan maksimal agar kebutuhan persediaan jagung dapat diambil dari lokal.

Berkaitan dengan ini, Sabelina menegaskan sekarang pemerintah lebih berkosentrasi menormalkan populasi babi. Mengingat jumlahnya saat ini belum mencapai populasi awal sebelum wabah kurang lebih 13 ribu ekor.

Sabelina menambahkan bibit babi yang ada saat ini bersumber dari 300 ekor indukan milik peternak yang masih selamat dari wabah, termasuk 30 induk dari unit pembibitan Disnak-Keswan di SP6. Saat ini harga anak babi oleh peternak dijual Rp3 juta perekor dari sebelumnya Rp4-5 juta. Sementara dari unit pembibitan Disnak-Keswan harganya lebih murah karena subsidi pemerintah. **