Di Jayapura, Suara Protes Warga Dibungkam Dentuman Senjata Api
Oleh: Selpius Bobii, Aktivis HAM, Eks Tapol Papua
HARI ini masyarakat Papua turun jalan memprotes kejahatan kemanusiaan di Tanah Papua, lebih khusus “Tragedi Berdarah di Dogiyai dan di Puncak”. Ada massa aksi yang menyampaikan aspirasi di bawah tekanan gabungan TNI-POLRI. Ada pula massa aksi damai dibubarkan secara paksa oleh gabungan TNI-POLRI.
Sekitar pukul 07.30 waktu Papua massa aksi damai kumpul di depan Asrama Mimika di Waena – Jayapura, Senin 27 April 2026.
Awalnya polisi mengizinkan massa aksi long march menuju ke Abebura dengan memakai satu jalur jalan raya. Namun, di depan Den Zipur Waena massa aksi dihadang oleh blokade aparat Brimob dan Dalmas. Sementara TNI bersiaga dengan senjata lengkap.
Negosiasi dengan pimpinan massa aksi tidak membuahkan hasil. Gabungan Brimob dan Dalmas didukung TNI yang berada di depan Den Zipur Waena membubarkan massa aksi dengan menyemburkan gas air mata menggunakan bus water canon, juga senjata gas air mata menembakkan ke arah massa aksi, juga menggunakan peluru karet. TNI POLRI juga menggunakan senjata api. Ini terbukti sebuah mobil ditembak senjata api hingga berlubang.
Aparat keamanan juga membubarkan massa aksi di Perumnas 3 Waena tepatnya di Uncen Atas. POLRI menembakkan gas air mata dan Senjata Api untuk membubarkan massa aksi secara brutal.
Demikian pula massa aksi yang sedang berorasi di Uncen bawah di Abepura. Gabungan Brimob dan Dalmas membubarkan massa aksi damai secara brutal. Aparat keamanan menembakkan gas air mata di tengah hunian warga. Banyak warga yang terdampak akibat penggunaan gas air mata dan senjata api di tengah hunian warga sipil.
Dikabarkan satu orang diamankan oleh Polisi. Ada pula yang korban luka-luka.
TNI-POLRI yang membantai warga sipil, TNI-POLRI pula yang membubarkan warga sipil yang protes melalui aksi damai atas kejahatan TNI-POLRI. Tujuan pembubaran massa aksi adalah menutupi kejahatan negara yang dilakukan oleh alat negara di Tanah Papua dan tentu akan terus membantai warga sipil.
Ruang demokrasi di Tanah Papua berada di ujung moncong senjata api. Ketika ruang demokrasi berada di ujung laras senjata api, negara berada dalam bahaya krisis legitimasi dan kepercayaan dari warga. Tunggu saatnya negara konaha ini bubar. **
Aparat TNI-Polri memblokade aksi massa dalam demo damai meminta pemerintah menarik pasukan non organid dai Papua di Jayarapu, Senin 27 April 2026. (Foto – Istimewa).














