Polemik Viral Nakes Jalan Kaki dari Arwanop Menuju Banti, Ini Telaah dan Klarifikasi Plt. Kadinkes Mimika
Timika,papuaglobalnews.com – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Godfield Maturbongs, memberikan klarifikasi terkait beredarnya video dan pemberitaan mengenai tenaga kesehatan (Nakes) yang melakukan perjalanan kaki dari Arwanop menuju Banti serta narasi yang mengaitkan kondisi tersebut dengan keterbatasan pelayanan kesehatan, minimnya obat-obatan, alat pemeriksaan dan tingginya kasus malaria di wilayah pegunungan.
Dalam telaah dan klarifikasi yang diterima redaksi papuaglobalnews.com, Kamis malam 11 Juni 2026, Maturbongs memberikan penjelasan berdasarkan kondisi lapangan, data logistik kesehatan, serta telaah epidemiologi malaria di wilayah tersebut.
Perjalanan Kaki Dipicu Kendala Transportasi Udara
Maturbongs menjelaskan bahwa pada saat kejadian terdapat kendala operasional penerbangan subsidi menuju Arwanop karena pesawat sedang menjalani pemeliharaan berkala sehingga akses transportasi udara tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Berdasarkan laporan yang diterima Dinas Kesehatan pada 2 Juni 2026, Plt. Kepala Puskesmas Arwanop menyampaikan terdapat petugas yang sedang sakit dan satu petugas lainnya akan mengikuti Pelatihan Dasar (Latsar). Dalam laporan tersebut juga diinformasikan bahwa transportasi udara sedang tidak tersedia karena pesawat mengalami gangguan operasional.
Atas kondisi tersebut, pihak puskesmas menyampaikan rencana melakukan perjalanan dengan berjalan kaki sebagai alternatif transportasi.
Namun demikian, Maturbongs menyebut saat laporan masih dalam proses konsultasi dan koordinasi untuk memperoleh arahan, keputusan melakukan perjalanan kaki telah terlebih dahulu diambil di tingkat puskesmas.
“Perjalanan kaki tersebut bukan disebabkan karena tidak adanya perhatian Pemerintah Daerah maupun Dinas Kesehatan, tetapi merupakan keputusan operasional yang diambil di tingkat puskesmas akibat keterbatasan transportasi udara saat itu,” jelasnya.
Dinkes Tegaskan Penanganan Darurat Tetap Dibuka
Terkait informasi adanya tenaga kesehatan yang sakit selama perjalanan, Dinas Kesehatan meminta persoalan tersebut dilihat secara proporsional.
Menurutnya, apabila terdapat kondisi kegawatdaruratan yang dikomunikasikan secara cepat dan intensif, maka berbagai langkah penanganan akan segera dilakukan sebagaimana praktik pada kasus-kasus sebelumnya.
Sebagai contoh, Dinkes menyebut pada 21 Mei 2026 terdapat laporan pasien anak dengan kejang dari Arwanop. Saat itu Plt. Kepala Dinas Kesehatan melakukan konsultasi medis dengan dokter spesialis penyakit dalam untuk penanganan awal.
Dari hasil koordinasi diketahui Puskesmas Arwanop belum memiliki kesiapan obat emergensi secara memadai, termasuk obat anti-kejang yang seharusnya tersedia.
Setelah dilakukan koordinasi lanjutan, pasien akhirnya dapat dirujuk menggunakan transportasi udara menuju Timika pada 22 Mei 2026.
Dinas Kesehatan menilai hal tersebut menunjukkan bahwa komunikasi aktif menjadi faktor penting dalam percepatan penanganan kasus darurat.
Maturbongs juga menjelaskan bahwa pada 12 Mei 2026 telah dilakukan konsultasi dengan Dinas Perhubungan Kabupaten Mimika terkait pelayanan penerbangan ke Arwanop.
Konsultasi dilakukan menyusul adanya masukan masyarakat mengenai penggunaan kapasitas penerbangan subsidi yang digunakan bersama oleh tenaga kesehatan dan tenaga pendidikan sehingga mempengaruhi akses transportasi masyarakat.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah memperbaiki aksesibilitas transportasi menuju wilayah pegunungan.
Tidak Ada Kekosongan Obat Malaria di Arwanop
Menanggapi narasi mengenai keterbatasan obat malaria, Maturbongs menyampaikan berdasarkan data logistik tidak ditemukan kondisi kekosongan obat maupun alat diagnosis malaria di Puskesmas Arwanop.
Data akhir April 2026 menunjukkan stok yang tersedia masih meliputi:
DHP Frimal: 393 tablet
DHP Dispersibel: 456 tablet
Primaquin: 1.648 tablet
RDT Malaria: 621 test

















