Fransiskus Bokeyau, Staf Ahli Bupati Bidang Kesejahteraan dan SDM foto bersama dewan juri, panitia dan peserta lomba setelah pembukaan, Sabtu 8 Agustus 2026. (Foto – Maria Goreti Barowati/papuaglobalnews.com).

Timika,papuaglobalnews.com – Di sore yang cerah Sabtu 8 Agustus 2026, area terbuka Kawasan Pasar Sentral, Distrik Mimika Baru, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, suasananya berbeda dari hari-hari biasa sebelumnya.

Suara keras musik berdentang dengan lagu-lagu yang membangkitkan semangat tentang perjuangan membela bangsa dan tanah airku, Indonesia. “Merah darahku, putih tulangku.” Lagu-lagu tersebut diputar keras oleh DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) selaku panitia penyelenggara lomba cipta dan baca puisi dengan tema “Seribu Cerita untuk Mimika”.

Peserta yang ambil bagian berjumlah 51 orang, terdiri dari kategori umum dan pelajar tingkat SMA-SMK. Setiap peserta dikenakan biaya pendaftaran Rp20 ribu. Peserta yang keluar sebagai pemenang diberikan hadiah trofi dan uang pembinaan.
Adapun kriteria penilaian meliputi mimik, interaksi dan artikulasi.

Dalam lomba ini menghadirkan dewan juri atas nama Wawan Babaubun dari pelaku seni jalanan, Renny Tapparang perwakilan alumni GMNI Universitas Yogyakarta dan Suprianto perwakilan Kampus STKIP Hermon Timika dan Jimi Rungkat selaku dosen yang juga jurnalis.

Pemilihan lokasi yang berada di Jalan Hasanuddin ini setidaknya memiliki pertimbangan khusus dari panitia.

Dari sisi letak, lokasi tersebut sangat strategis dan mudah dijangkau. Selain itu, dari sisi ekonomi, pemilihan lokasi turut membantu para pelaku usaha di tempat tersebut. Para pengunjung atau peserta yang datang ke lokasi sebelum acara, saat acara berlangsung maupun setelahnya dapat berbelanja kebutuhan.

Paling tidak, sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui.

Di tempat itu, masyarakat bisa menikmati suguhan jus segar, makanan dan minuman dari para penjual atau berbelanja kebutuhan lain di pasar.

Alasan lain, di lokasi tersebut masyarakat dapat sambil menonton dan mengikuti penampilan para peserta serta menikmati musik sambil duduk santai di fasilitas bangku serta meja yang sudah disiapkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan.
Momen lomba cipta dan baca puisi diadakan untuk mengisi ruang refleksi dan pemaknaan peringatan HUT RI ke-81 pada 17 Agustus 2026.

Pukul 15.15 WIT, para peserta serta tamu undangan mulai mengisi kursi-kursi yang disiapkan panitia. Peserta usia sekolah datang mengenakan pakaian tradisional khas Papua dari Suku Kamoro dan Amungme.

Baju dari daun anyaman pandan, rok yang dalam bahasa Kamoro disebut rumbia dari daun sagu buatan pengerajin Kamoro, serta noken rajutan tangan terampil mama-mama Amungme dan penghias kepala dari bulu kasuari. Selain itu, tubuh mereka diberi warna khas Papua dengan ukiran unik serta menarik.

Acara ini dibuka oleh Staf Ahli Bupati Bidang Kesejahteraan dan SDM, Fransiskus Bokeyau. Sesuai undangan, acara dimulai pukul 15.00 WIT, namun molor hingga pukul 16.00 WIT.

Molornya acara seperti ini bukan hal baru, melainkan sudah menjadi budaya dalam setiap event apa saja di daerah yang dijuluki Kota Dolar ini.

Sebagai bentuk ungkapan untuk menenangkan perasaan peserta yang sudah menunggu lama, master of ceremony mengawali sapaannya dengan menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan.

Turut hadir Maikel Yohanes Renwarin, Kepala Dinas Pemuda Olahraga, Anita Jeujanan perwakilan BRINDA dan Kepala Kampung Nawaripi Norman Ditubun.

GMNI Hidupkan Kembali Semangat Sastra Muda

Ketua DPC GMNI Mimika, Kristoforus Tofi, mengucapkan selamat datang kepada peserta yang ambil bagian dalam event ini dalam mendukung dan menghidupkan kembali semangat mencipta dan membaca puisi dan sastra-sastra yang lainnya.

Ia mengakui kegiatan yang diselenggarakan terbilang cukup kecil, namun di balik itu tersimpan pesan yang kuat untuk menarik kembali minat-minat sastra muda yang ada di Kabupaten Mimika, khusus dari tingkat pelajar, mahasiswa dan umum yang sejauh ini, sesuai penilaiannya, sudah pudar.

Ia mengungkapkan, tujuan daripada kegiatan yang digagas dalam bentuk lomba cipta dan baca puisi ini dengan bertemakan “Seribu Cerita untuk Mimika”, diisi puisi dari para penyair-penyair muda yang akan menceritakan tentang seluk-beluk Kota Timika.

Kristoforus menegaskan, semua karya yang dibacakan, baik yang juara maupun yang belum juara, akan dikumpulkan untuk dicetak dalam bentuk buku tetap dengan judul yang sama sesuai tema.

Karya para penyair yang dibukukan disertai biodata penulis sebagai bentuk penghargaan atas karya diluncurkan pada 28 Oktober 2026 bertepatan Hari Sumpah Pemuda.

Ia mengatakan kegiatan ini akan tetap berlanjut di setiap ada momen penting kepemudaan yang sudah mulai hilang.

Baginya, kegiatan ini mencoba mengangkat kembali semangat dan niat dalam mewariskan literasi, menumbuhkan semangat kecintaan dalam mengekspresikan nilai-nilai dalam menjaga budaya.

“Kegiatan kami ini cukup kecil tetapi kami tahu bahwa makna dan tujuannya lebih besar untuk kemajuan Mimika,” katanya.

Bupati Mimika Johannes Rettob dalam sambutan yang dibacakan Fransiskus Bokeyau mengapresiasi DPC GMNI Mimika yang menyelenggarakan kegiatan tersebut.

Sejarah, potensi alam dan nilai-nilai kehidupan bermasyarakat semuanya merupakan kekayaan sumber inspirasi yang tidak pernah habis untuk dituangkan dalam karya sastra, khususnya melalui tulisan dan kata-kata yang indah. Tetapi juga menyampaikan gagasan, harapan, kritik untuk membangun rasa cinta, bahkan semangat pengabdian kepada bangsa dan daerah yang dicintai.

Ia berharap setiap karya yang lahir dari lomba benar-benar menjadi cerminan kecintaan generasi muda terhadap Kabupaten Mimika dan menjadi bagian dari warisan literasi yang membanggakan.

Bupati juga berharap melalui momen ini, pertama, menumbuhkan semangat kreativitas dan kecintaan generasi muda terhadap dunia literasi, khususnya sastra.

Kedua, menanamkan rasa cinta terhadap budaya lokal, keberagaman serta kepedulian terhadap pembangunan Kabupaten Mimika.

Ketiga, memberikan ruang kreativitas bagi pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum agar dapat mengembangkan potensi diri melalui karya sastra yang berkualitas.

Dikatakan tempat maupun karya-karya terbaik yang nantinya akan diterbitkan dalam bentuk buku antologi puisi dan diluncurkan pada momentum Hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 2026 ini merupakan langkah yang sangat baik.
Karena karya-karya tersebut akan menjadi dokumentasi sejarah sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi luar biasa yang berguna bagi pemuda.

Ia juga menegaskan kemajuan suatu daerah tidak hanya diukur dari pembangunan infrastruktur semata, tetapi juga dari kemajuan pendidikan, seni, budaya dan interaksi masyarakat.
Di bidang pendidikan, organisasi kepemudaan, komunitas dan kesempatan anak-anak muda agar mereka semakin gemar membaca, menulis, berkarya dan mencintai budaya. **