Damai di Pinggir Jalan
Di situlah saya belajar tentang DAMAI.
Damai ternyata bukan soal pidato. Bukan soal konferensi. Bukan soal spanduk, pamflet, selebaran. Damai adalah soal apakah orang kecil merasa dilihat.
Etika solidaritas selalu dimulai dari yang paling sederhana: siapa yang kita anggap penting. Apakah mama Papua penjual pinang penting bagi ekosistem sosial, ekonomi dan politik kota ini?
Jika mama penjual pinang hanya dianggap gangguan ketertiban, maka damai belum turun ke tanah. Ia masih tinggal di layar. Tinggi. Jauh. Dingin.
Solidaritas bukan rasa kasihan. Solidaritas adalah keberanian untuk mengakui dan berbagi: hidup kecil juga menentukan wajah kemanusiaan kita.
Saya membayangkan suatu hari videotron kota ini menampilkan mama itu. Bukan untuk iklan.
Bukan untuk pencitraan. Tapi sebagai pengakuan: bahwa DAMAI juga milik mereka yang duduk di pinggir jalan. Tata pinang. Bungkus kapur, ikat siri. Anyam noken.
Kalau hari itu belum tiba, mungkin damai kita masih terlalu sibuk berbicara. Belum cukup solider untuk mendengar. **














