Oleh : Laurens Minipko

 

SAYA bertemu seorang mama Papua yang menjual pinang di pinggir jalan.

Setiap hari ia duduk di tempat yang sama. Di bawah panas. Di antara debu dan klakson.
Tangannya cekatan. Wajahnya tenang. Seolah kota ini baik-baik saja.

Suatu hari ia berkata pelan: “Suatu waktu, jualan saya ini masuk videotron.”

Saya terdiam. Sambil memandang videotron yang membelalak di depan.
Ia tidak sedang bermimpi jadi terkenal.
Ia hanya ingin diakui.

Di kota ini, videotron menampilkan banyak hal: wajah pejabat, iklan bank, pajak, jardon damai. Semuanya besar. Semuanya terang.
Tapi mama penjual pinang tidak pernah masuk layar itu.
Padahal ia ada. Di depan videotron. Setiap hari.

Catatan Redaksi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer

Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.

Hak Jawab & Koreksi Berita

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.