SPPG Mimika Wania Mawokauw Jaya 2 dan SPPG Perintis Mimika Baru 002 Diresmikan, Kepala BGN: Secara Nasional Layani 57 Juta Porsi Perhari
Fransiskus Bokeyau, Staf Ahli Bupati Mimika, Kepala Kantor BGN Wilayah Kerja Papua Djimmy Yomaiwi Douw, ST, MM, dan Kapten Heru, Perwakilan Kodim 1710 Mimika menggunting pita meresmikan SPPG Mimika Wania Mawokauw Jaya 2, Jumat 2 Oktober 2026. (Foto – Anton Juma Songa/papuaglobalnews.com).
Timika,papuaglobalnews.com – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mimika Wania Mawokauw Jaya 2 dan SPPG Perintis Mimika Baru 002 yang berada di wilayah Distrik Wania dan Distrik Mimika Baru, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, resmi beroperasi, Jumat 2 Oktober 2026.
Beroperasinya dua SPPG di Mimika tersebut setelah diresmikan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono secara live serentak untuk 16 provinsi dan 116 kabupaten/kota wilayah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T) yang memiliki prevalensi stunting tertinggi. Peluncuran tersebut dipusatkan di Provinsi Sulawesi Selatan.
Peluncuran di Mimika ditandai pengguntingan pita oleh Staf Ahli Bupati Mimika Fransiskus Bokeyau mewakili Pemerintah Kabupaten Mimika, perwakilan TNI, Kepala Kantor BGN Wilayah Kerja Papua Djimmy Yomaiwi Douw, ST, MM. Turut hadir Kepala Distrik Mimika Baru Merlyn Temorubun, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Johana Beladina Arwam.
Kepala BGN Sudaryono dalam sambutan menyampaikan bahwa saat ini telah terdapat 27.022 dapur yang beroperasi di seluruh Indonesia.
“Ternyata memang masih banyak yang sudah bergabung,”katanya.
Menurutnya, terdapat sekitar 480 SPPG lainnya yang tersebar di 16 provinsi yang dibuka pada hari tersebut.
“Apakah ini akan berhenti di sini saja? Tidak. Setelah ini kami harapkan ke depan kami buka di Kalimantan, kami buka di Bali, kami buka di Sumatera. Kami buka di tempat-tempat yang memang stunting-nya tinggi sekali dan tidak stabil,” jelasnya.
Ia menambahkan, pembukaan SPPG tidak hanya menyasar daerah yang berada di kelompok paling pelosok, tetapi juga wilayah lain yang anak-anaknya membutuhkan pemenuhan gizi.
“Walaupun itu tempatnya barangkali bukan di kelompok paling pelosok, tetapi anak-anaknya membutuhkan. Kami mendapatkan banyak masukan, banyak ilmu, banyak surat dari masyarakat, dari SPPG, dari pasar yang ada di dapur, termasuk masukan dan usulan dari sekolah dan banyak sekali pihak yang memang masih ingin adanya intervensi di daerah,” katanya.
Ia menegaskan, peluncuran tersebut merupakan langkah awal untuk membuka dan mengaktivasi dapur-dapur yang sudah siap beroperasi.
“Dengan peluncuran ini maka moratorium yang sebelumnya dinyatakan tidak berlaku lagi,” tegasnya.
Sudaryono juga mengakui masih terdapat segelintir orang yang bekerja tanpa memperhatikan Standar Operasional Prosedur (SOP).
Karena itu, ia mengingatkan kepala daerah untuk melakukan inspeksi, mulai pukul 02.00 WIT, guna mengetahui secara langsung kebersihan dan kedisiplinan dalam pengelolaan dapur SPPG.
BGN, katanya, juga selalu mengadakan pertemuan melalui Zoom bersama sekitar 27 ribu dapur yang telah beroperasi.
Ia meminta agar setiap dapur menempatkan orang-orang yang benar-benar bertanggung jawab.
“Masak harus benar-benar masak tanpa harus buru-buru. Pasang CCTV yang terkoneksi langsung dengan BGN agar setiap aktivitas di dapur langsung dipantau,” katanya.
Sudaryono menjelaskan, pembukaan 480 dapur ini merupakan inisiatif BGN Pusat dan tidak melalui calon atau perantara.
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer
Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.
Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.




















