Timika,papuaglobalnews.com – Ketua MRP Papua Tengah, Agustinus Anggaibak mengecam serta mengutuk keras pelaku penembakan terhadap warga sipil di wilayah Tembagapura yang diduga dilakukan aparat keamanan saat operasi militer senyap pada Kamis malam, 7 Mei 2026 sekira pukul 21.00 WIT.

“Tadi barusan saya kunjungi pihak korban yang lagi dirawat di RSMM. Sementara korban yang meninggal, tadi saya sudah minta Kapolda Papua Tengah untuk turunkan jenazah ke Timika untuk proses pemakaman di sini. Dan aparat keamanan sedang antar jenazahnya dari Tembagapura ke Timika. Karena pihak keluarga minta agar korban dimakamkan di Timika,” ujar Agus kepada papuaglobalnews.com usai menjenguk korban di Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM), Sabtu 9 Mei 2026.

Agustinus mengungkapkan, berdasarkan hasil kunjungan langsung dan keterangan para korban, baik anak-anak, ibu-ibu maupun bapak-bapak yang mengalami penembakan, di lokasi kejadian tidak terdapat Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Menurut para korban, penembakan dilakukan murni oleh aparat TNI non organik dari Satgas Rajawali yang bertugas melakukan pengamanan di wilayah operasional tambang PT Freeport Indonesia.

“Ini sesuai keterangan dari masyarakat terutama ibu-ibu yang menjadi korban. Mereka bilang KKB tidak ada di lokasi. Yang melakukan penembakan murni tentara,” ungkap Agus mengutip penyampaikan korban yang juga saksi.

Ia menambahkan, berdasarkan cerita korban, saat operasi militer berlangsung sebagian warga sedang tidur dan sebagian lainnya duduk santai di camp. Namun ketika aparat tiba di lokasi, mereka langsung melepaskan tembakan secara membabi buta ke arah camp warga.

Agus mengaku telah memastikan kembali kepada para korban sekaligus saksi mata apakah ada kontak senjata atau keberadaan KKB di sekitar lokasi kejadian. Namun para korban menegaskan tidak ada KKB di tempat kejadian perkara.

“Dan mereka sampaikan bahwa yang menembak kami benar-benar murni dari tentara bukan OPM,” ujar Agus.

Korban juga menyebut dalam peristiwa tersebut tidak terjadi baku tembak antara OPM dan TNI. Dalam situasi panik, warga langsung lari menyelamatkan diri menuju Kampung Banti, Kimbeli, Tembagapura hingga Timika.

Atas kejadian itu, Agus mendesak Presiden RI selaku panglima tertinggi untuk memerintahkan Panglima TNI mengevaluasi kembali penempatan pasukan non organik di Papua, khususnya Papua Tengah.

“Saya minta ditarik dari wilayah Papua Tengah. Kirim pasukan dan senjata ke Papua bukan tujuan sebagai solusi untuk mengamankan Papua, tapi itu menambah konflik,” tegasnya.

Mantan Anggota DPRD Mimika itu juga mempertanyakan untuk apa besarnya dana Otonomi Khusus (Otsus) yang dikirim pemerintah pusat ke Papua, jika masyarakat sipil Orang Asli Papua masih terus menjadi korban kekerasan.