Timika,papuaglobalnews.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Papua Tengah melaksanakan kegiatan Continuous Quality Improvement (CQI) atau Peningkatan Mutu Berkelanjutan di Hotel Grand Tembaga, Jumat April 2026.

Kegiatan ini difokuskan pada evaluasi penguatan program malaria di lima puskesmas serta implementasi terapi baru Primakuin dosis tinggi sebagai terapi radikal malaria vivax di empat puskesmas di Kabupaten Mimika.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Godfried Maturbongs, S.IP., MMKes dalam arahan mendorong pelayanan terapi radikal malaria vivax bisa menjangkau semua Puskesmas hingga pesisir dan gunung.

Ia mengaskan Dinkes selalu mendukung terhadap kegiatan dalam program upaya mengeliminasi malaria sesuai target tahun 20230 yang kini tinggal empat tahun dan berharap Mimika menjadi terdepan dalam pengendalian malaria di Indonesia.

“Malaria dilihat dari target kita tinggal empat tahun dalam program eliminasi. Dalam kerjasama dengan mitra lain, Mimika bisa keluar sebagai nomor urut 10 besar dari tingkat nasional sebagai daerah penyumbang 70 persen malaria,” katanya.

Ia mengajak semua pihak satukan langkah untuk maju bersama kedepan mendukung program yang akan dilaksanakan ini.

Sementara Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2) Linus Dimatubun dalam laporan menjelaskan, Kementerian Kesehatan Indonesia menetapkan target untuk mencapai Indonesia bebas malaria pada tahun 2030. Dalam rangka mendukung percepatan eliminasi malaria, berbagai kegiatan-kegiatan akselerasi telah disusun secara sistematis dalam Rencana Aksi Nasional. Fokus utama pelaksanaan kegiatan-kegiatan ini adalah daerah-daerah dengan Annual Parasite Incidence (API) lebih dari 100 per 1.000 populasi, dengan penekanan khusus pada 9 kabupaten/kota di Tanah Papua, salah satunya Kabupaten Mimika.

Ia menjelaskan, Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, bersama dengan Yayasan Pengembangan Kesehatan dan Masyarakat Papua (YPMKP), tengah melaksanakan dua kegiatan inovatif yang merupakan bagian dari Rencana Aksi Nasional untuk Percepatan Eliminasi Malaria 2020-2026. Kedua kegiatan tersebut adalah Penguatan Program Malaria di 5 Puskesmas dan Terapi Baru Primakuin (TBP) untuk malaria vivax di 4 Puskesmas di Kabupaten Mimika.

Dalam pelaksanaannya, jelas Linus penting untuk dilakukan Continous Quality Improvement (CQI) sebagai sarana bagi fasilitas kesehatan untuk mengukur dan mengevaluasi keberhasilan program-program ini, guna memastikan dampak yang optimal dalam upaya eliminasi malaria.

Jenis Kegiatan

Evaluasi pencapaian pelaksanaan Penguatan Program Malaria di 5 Puskesmas dan Pengobatan Primakuin Dosis Tinggi untuk Terapi Radikal Malaria Vivax di 4 Puskesmas di Kabupaten Mimika.

Dilaksanakan kegiatan ini dengan tujuan diantaranya;

  1. Mengevaluasi implementasi penguatan program malaria di 5 Puskesmas untuk memastikan keberhasilan upaya pencegahan dan pengendalian malaria sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
  2. Mengevaluasi implementasi Terapi Baru Primakuin sebagai terapi radikal untuk Malaria Vivax di 4 Puskesmas untuk memastikan kesesuaian pelaksanaan dengan pedoman terapi yang berlaku dan mengukur pencapaian terhadap 4 indikator kunci.
  3. Mengidentifikasi kendala dan tantangan yang dihadapi oleh petugas kesehatan dalam pelaksanaan program malaria dan terapi radikal malaria vivax, serta merumuskan rekomendasi perbaikan.

Ia menyebutkan peserta yang terlibat dalam kegiatan ini Dinas Kesehatan dan 5 Puskesmas  yakni Timika, Timika Jaya, Wania, Pasar Sentral dan Bhintuka serta mitra lainnya.

Sementara Dr. Jeanne Rini Poespoprodjo, Sp.A, M.Sc, Ph.D dalam materinya menjelaskan  berdasarkan data tujuh tahun terakhir menunjukkan jumlah kasus malaria di Mimika terus meningkat, dengan dominasi kasus malaria vivax.

Tahun 2019 terdapat 26.892 kasus  atau 43% vivax, 2020 dengan 24.318 kasus  atau 42% vivax, 2021 dengan 23.512 kasus  atau 48% vivax, 2022 kembali naik 27.571 kasus  atau 41% vivax, 2023 makin tinggi 31.891 kasus  atau 45% vivax, 2024 juga meningkat 38.141 kasus  atau 46% vivax dan 2025 sebanyak 50.017 kasus 49% vivax.

Ia menjelaskan mendukung upaya eliminasi diperlukan suatu program penguatan malaria difokuskan pada 5 puskesmas yakni Timika, Timika Jaya, Wania, Pasar Sentral, dan Bhintuka. Salah satu inovasi utama adalah keberadaan ‘pojok malaria’.

Ia menjelaskan keberadaan pojok malaria sesuai hasil evaluasi menunjukkan sejumlah dampak positif dari program ini, antara lain:

Pertama, terjadi penurunan signifikan kasus malaria berulang.

Kedua, pasien yang tidak mengakses Pojok Malaria memiliki risiko kambuh 2,6 kali lebih tinggi dalam 63 hari  atau 17,5% dibandingkan yang mengakses Pojok Malaria menurun 5,9% pada fase awal April-Agustus 2020.

Tren serupa terjadi pada fase konsolidasi September 2020-Januari 2021.

Ketiga, peningkatan keterlibatan antara tenaga kesehatan dan pasien.

Pojok Malaria juga berfungsi sebagai layanan terpadu, meliputi:

Pertama, edukasi pentingnya minum obat sampai tuntas.

Kedua, pemberian DHP dan primakuin hari pertama.

Ketiga, rujukan ke kader untuk Pengawas Minum Obat (PMO).