Timika,papuaglobalnews.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau tahun 2026 lebih awal dibandingkan rata-rata klimatologinya. Puncak musim kemarau diprakirakan terjadi pada Agustus mendatang.

Forecaster BMKG Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Mozes Kilangin Timika, Marsareza, menjelaskan kondisi tersebut dipicu oleh berakhirnya fenomena La Niña lemah pada Februari 2026 yang kini telah bergeser ke fase netral dan berpotensi menuju El Niño pada pertengahan tahun.

“BMKG Pusat sudah merilis kondisi perubahan iklim yang berpotensi menuju El Niño lebih awal dari biasanya dan waktunya lebih panjang dari normalnya. Sehingga wilayah Timika yang biasanya banyak hujan berpotensi mengalami penurunan curah hujan,” jelas Marsareza kepada papuaglobalnews.com di ruang kerjanya di Timika, Sabtu 7 Maret 2026.

Ia mengatakan, pada Maret 2026 kondisi iklim masih berada pada fase netral atau sisa La Niña lemah. Namun kondisi tersebut berpotensi berubah pada bulan-bulan berikutnya.

Marsareza mengakui sejak Januari hingga awal Maret 2026 kondisi panas di Timika sudah mulai terasa, dengan curah hujan yang semakin menurun. Jika hujan terjadi, intensitasnya umumnya hanya ringan hingga sedang.

Menurutnya, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak terlalu diperlukan, mengingat suhu udara yang cenderung meningkat.

“Biasanya di Timika curah hujan ringan hingga sedang dengan durasi panjang terjadi pada Juni, Juli dan Agustus. Namun dengan potensi munculnya El Niño, kita belum bisa memastikan apakah pada bulan-bulan tersebut masih akan terjadi curah hujan tinggi atau tidak,” katanya.

Ia menjelaskan, saat ini suhu udara di Samudera Pasifik cenderung lebih dingin dibanding sebelumnya, yang berdampak pada berkurangnya proses penguapan air di wilayah Indonesia. Jika El Niño terjadi, maka suhu permukaan laut di sekitar Amerika akan menjadi lebih hangat sehingga berpotensi menurunkan curah hujan di wilayah Indonesia, termasuk Timika.

Marsareza juga mengutip penjelasan Kepala BMKG Pusat, Teuku Faisal Fathani, bahwa pemantauan anomali iklim global di Samudera Pasifik menunjukkan nilai indeks ENSO saat ini berada pada angka -0,28 atau berada pada fase netral dan diprediksi bertahan hingga Juni 2026.

Namun demikian, mulai pertengahan tahun peluang munculnya El Niño kategori lemah hingga moderat mencapai sekitar 50-60 persen sehingga perlu menjadi perhatian.

Sementara itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap stabil pada fase netral sepanjang tahun.

Peralihan angin baratan (Monsun Asia) menjadi angin timuran (Monsun Australia) menjadi penanda dimulainya musim kemarau di Indonesia. BMKG mencatat sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April 2026.

Wilayah tersebut meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta sebagian kecil wilayah Kalimantan dan Sulawesi.