Timika,papuaglobalnews.com – Konflik berdarah antara dua kelompok, Dang dan Newengalem, di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, yang berlangsung hampir tiga bulan sejak Oktober hingga Desember 2025, menjadi perhatian luas masyarakat Papua maupun non-Papua.

Konflik tersebut bermula dari persoalan individu terkait kasus perselingkuhan yang melibatkan oknum warga asal Kabupaten Puncak. Hingga 5 Januari 2026, konflik ini telah menelan korban jiwa sebanyak 11 orang tak berdosa. Rinciannya, lima orang dari kubu Dang, lima orang dari kubu Newengalem, serta seorang perempuan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Berbagai upaya perdamaian telah dilakukan oleh Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa, Kapolda Papua Tengah, Bupati Puncak, Bupati Mimika, MRP Papua Tengah, DPR Papua Tengah, Kapolres Mimika, serta Dandim 1710 Mimika. Upaya tersebut bahkan sempat dimediasi dalam pertemuan menjelang Natal dan Tahun Baru di Hotel Seraton. Namun, kesepakatan damai itu tidak bertahan lama.

Pada Minggu, 4 Januari 2026, konflik kembali pecah dan menewaskan seorang warga bernama Jeri Murib. Korban meninggal di tempat dengan kondisi tubuh tertancap puluhan anak panah. Sehari berselang, Senin 5 Januari 2026, seorang perempuan ODGJ kembali menjadi korban kebrutalan konflik.

Merespons situasi yang semakin tidak terkendali, berdasarkan hasil koordinasi antara Pangdam, Kapolda Papua Tengah, Kapolres Mimika, Dandim 1710 Mimika, serta Pemerintah Kabupaten Mimika, jenazah Jeri Murib dikremasi pada Selasa, 6 Januari 2026.

Prosesi pembakaran jenazah dipimpin langsung oleh Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Puncak, Nenu Tabuni, didampingi Anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Tengah, Pelaksana Tugas Kepala Distrik Kwamki Narama Naftali Edwin Hanuebu, serta Kapospol Polsek Kwamki Narama. Prosesi tersebut mendapat pengamanan ketat dari aparat TNI-Polri.

Namun, di tengah persiapan kremasi, rombongan Pj. Sekda Puncak sempat mendapat penyerangan dari kelompok Dang yang menolak proses pembakaran dilakukan di wilayah mereka.

Usai prosesi pembakaran jenazah, Nenu Tabuni mengimbau kedua kelompok yang bertikai untuk segera menghentikan konflik dan kembali pada jalan perdamaian.

Mantan Pj. Bupati Puncak ini menegaskan bahwa pembakaran jenazah Jeri Murib menjadi simbol berakhirnya perang antarwarga di wilayah tersebut.