Timika,papuaglobalnews.com – Abdul Haris Sudharmono, Plt. Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Mimika mengungkapkan, tahun 2026 ini Pemerintah Pusat melalui dua kementerian, Kementerian Pertanian dan Kementerian Pekerjaan Umum berkolaborasi akan membangun 25 unit Jaringan Irigasi Air Tahan (JIAT) di Kabupaten Mimika. Program JIAT ini sebagai bentuk perhatian pemerintah dalam menjawab kebutuhan ketersediaan air yang cukup untuk para petani.

Hal ini disampaikan  Haris kepada papuaglobalnews.com di ruang kerjanya, Senin 14 September 2026.

Ia mengakui tahap pemetaan lokasi sudah dilaksanakan Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian yang sekarang tinggal menunggu pihak ketiga atau penyedia bekerja.

Ia mengakui saat ini kebutuhan pangan terutama bumbu dapur cabai mengalami inflasi tembus Rp135-140 ribu per kilogram di pasaran. Salah satu faktor mahalnya harga cabai karena menurunnya hasil produksi petani selama musim el nino yang terjadi hampir empat bulan ini. Selama el nino persediaan air tanah menjadi lebih sedikit berdampak pada pertumbuhan tanaman menjadi lebih lambat bahkan gagal.

Namun demikian, Haris masih merasa bersyukur para petani masih mensiasati dengan air irigasi maupun sumur bor yang sudah ada di kebun.

Masa sulit dari dampak panas panjang ini memang dialami secara nasional, sehingga dengan minimnya persediaan cabai lokal di Timika maka untuk memenuhi kebutuhan pasar para pelaku usaha terpaksa datangkan dari luar daerah yang ikut berpengaruh pada harga.

Haris mendoakan segera turun hujan agar petani kembali menanam dalam jumlah banyak dan produksi meningkat menghasilkan cabai berkualitas agar harga kembali normal.

Ia mengakui fenomena alam ini sesungguhnya terjadi diluar perkiraan manusia.

Lewat pengalaman tahun ini, kata Haris menjadi dasar bagi OPD teknis yang dipimpinnya untuk menyusun program  di tahun mendatang memetakan titik-titik mana saja yang menjadi lokasi yang selama ini produksi cabai dan padi guna diberikan bantuan sarana dan prasarana pendukung berupa mesin penyedot air atau sumur bor sebagai cadangan agar ketika terjadi musim kemarau panjang  tiba petani tidak mengalami kesulitan air.

 

“Tahun ini kita tidak punya anggaran untuk bantu membuat sumur bor. Tapi petani masih bisa manfaatkan irigasi yang ada meskipun debit airnya turun karena belum ada hujan,” jelas Haris.

Ia menyebutkan daerah yang petani tanam cabai penyebarannya hampir merata diantaranya di wilayah Mimika Timur, SP9 dan Iwaka.

Sementara Bernard D. Ansaka, Kepala Bidang Penyuluhan dan Prasarana Sarana Pertanian menjelaskan, bantuan 25 unit JIAT ini dari Kementerian Pertanian kolaborasi Kementerian Pekerjaan Umum (PUPR).

Bernard mengakui pemetaan titik lokasi sudah selesai tersebar di wilayah Distrik Iwaka, Distrik Wania dan Mimika Baru yang sekarang tinggal menunggu pihak ketiga turun membangun.

“Kita sekarang lagi urus surat ijin lingkungannya di masing-masing lokasi,” kata Bernard di ruang kerjanya, Senin 14 September 2026.

Ia menyebutkan pembangunan JIAT ini kedalaman bor 80-100 meter dilengkapi bak penampung dan sistem hidrolik dengan kekuatan semprot beradius sejauh 1,6 kilometer diatas lahan seluas 10 hektar.

Bantuan ini lebih diprioritaskan memenuhi kebutuhan petani  bidang hortikultura.

“Bantuan ini sangat pas dengan kondisi musim kering seperti ini agar petani semakin bergairah untuk menanam,” harapnya. **

Catatan Redaksi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer

Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.

Hak Jawab & Koreksi Berita

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.