Selpius Bobii Kirim Surat Terbuka ke Komnas HAM RI : “Puncak dan Dogiyai Berdarah, Puluhan Warga Sipil jadi Korban”
Timika,papuaglobalnews.com – Masyarakat sipil Orang Asli Papua (OAP) di Kabupaten Puncak dan Dogiyai berjatuhan dalam peristiwa saling serang antara OPM dan TNI. Ada yang meninggal dunia dan luka-luka.
Menyikapi situasi ini, Selpius Bobii, Ativis HAM yang juga eks Tahanan Politik (Tapol) Koordinator JDRP2 melayangkan surat terbuka elektronik kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas Ham) RI tertanggal 17 April 2026.
Berikuti isi lengkap surat terbuka yang diterima redaksi papuaglobalnews.com:
Kepada
Yth. KOMNAS HAM Republik Indonesia
Di,- Jakarta
Dengan hormat,-
Melalui surat terbuka ini kami menyampaikan “Darurat Kemanusiaan di Tanah Papua”.
Tanah Papua Barat dari sejak 1 Mei 1963 berlumuran darah. Setiap saat ada saja orang asli Papua meneteskan darah akibat konflik Ideologi Politik antara Negara Indonesia dan bangsa Papua.
Dalam surat terbuka ini kami hanya menyampaikan dua tragedi berdarah yang terjadi pada akhir bulan Maret dan April 2026.
Pertama, pada akhir Maret 31 April hingga 2 April 2026 terjadi Tragedi Berdarah di Dogiyai yang menewaskan 5 warga sipil dan 4 warga sipil terluka (luka ringan dan kritis).
Penemuan mayat polisi JE membangkitkan amarah polri di Dogiyai sehingga terjadi penembakan terhadap warga sipil Dogiyai (OAP). Tragedi berdarah di Dogiyai mengakibatkan lima korban mati di tempat dan beberapa korban kritis:



























