Namun, jika dilihat dari tingkat penularan, Puskesmas Hoya menjadi wilayah dengan PR tertinggi di Mimika. Dari 252 pemeriksaan, ditemukan 96 kasus positif malaria, dengan PR mencapai 38,10 persen. Tingginya PR ini mengindikasikan wilayah tersebut masih sangat endemis malaria meskipun jumlah pemeriksaannya relatif kecil.

Selain Hoya, PR tinggi juga tercatat di Puskesmas Jita sebesar 31,63 persen, Puskesmas Mapar 26,95 persen, serta Puskesmas Tapormai 26,02 persen. Wilayah-wilayah ini menjadi perhatian khusus dalam upaya pengendalian malaria.

Sementara itu, sejumlah puskesmas mencatat PR rendah, seperti Puskesmas Ipaya dengan PR 4,21 persen, Puskesmas Ayuka 5,40 persen, Puskesmas Amar 5,36 persen, dan Puskesmas Jila 5,71 persen. Bahkan Puskesmas Alama tanpa mencatat kasus positif malaria dari 15 pemeriksaan yang dilakukan.

Data ini menunjukkan bahwa tantangan eliminasi malaria di Mimika tidak hanya terletak pada jumlah kasus, tetapi juga pada ketimpangan tingkat penularan antarwilayah. Pemerintah daerah bersama Dinas Kesehatan diharapkan dapat memfokuskan intervensi pada puskesmas dengan PR tinggi, khususnya di wilayah pedalaman dan akses terbatas.

Upaya peningkatan skrining, pengobatan tuntas, pengendalian vektor, serta edukasi masyarakat dinilai menjadi kunci dalam mencapai target eliminasi malaria di Kabupaten Mimika. **