“Di tengah belum adanya kepastian, masyarakat dari luar sudah beraktivitas di lokasi yang dipersoalkan. Ini yang membuat masyarakat Kamoro merasa terusik dan terancam, sehingga memicu perlawanan,” ujarnya.

Selain itu, LEMASKO juga meminta aparat keamanan, khususnya Polres Mimika, untuk meningkatkan pengamanan di wilayah Kapiraya guna mencegah eskalasi konflik dan melindungi warga sipil.

Masyarakat berharap pemerintah daerah dan pemerintah pusat segera mengambil langkah konkret agar persoalan tapal batas dapat diselesaikan secara adil dan transparan, sehingga konflik serupa tidak kembali terulang.

Berdasarkan video yang beredar di masyarakat, terlihat sejumlah warga Kapiraya membawa busur panah, parang dan senapan angin saat melakukan penyerangan. Di lokasi kejadian juga tampak beberapa anggota kepolisian yang berupaya melakukan pengamanan untuk meredam situasi.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi terkait jumlah korban maupun kerugian materiil akibat bentrokan tersebut.

Untuk mengamankan situasi di wilayah itu, Polres Mimika telah menerjunkan  30 personil  gabungan ditambah Brimob sejak Selasa 11 Februari 2026. Keberangkatan personil dipimpin  Kabag Ops Polres Mimika AKP Hendri Alfredo Korwa.  **