Polwan, Hati yang Lembut di Balik Seragam
Dimensi Gender dan Humanis
Sejak 1948, Polwan lahir untuk menangani persoalan yang menyangkut perempuan dan anak. Namun kini, 77 tahun kemudian, peran mereka semakin luas: dari lalu lintas, penyidikan, hingga jabatan strategis di tubuh Polri. Kehadiran Polwan bukan hanya menambah jumlah, tetapi juga menghadirkan wajah kepolisian yang lebih humanis, dekat, dan bisa dipercaya.
Melayani dengan Hati
Melayani dengan hati berarti tidak berhenti pada aturan dan prosedur semata. Polisi perlu melihat rasa takut, penderitaan, sekaligus harapan warga. Polwan dengan kelembutan hatinya mampu menghadirkan rasa aman yang sesungguhnya: aman karena dihormati, bukan karena ditakuti. Inilah roh dari tema “Polri untuk Masyarakat”: bahwa setiap langkah polisi seharusnya untuk kepentignan rakyat.
HUT Polwan ke-77 bukan sekadar perayaan umur, tetapi juga pengingat: polisi ada karena masyarakat. Pesan Kapolres agar Polwan melayani dengan hati yang lembut adalah panggilan moral, bukan hanya bagi Polwan, tetapi bagi seluruh jajaran kepolisian.
Di Mimika maupun di seluruh Indonesia, masyarakat mendambakan polisi yang tegas tetapi tidak keras hati, yang disiplin tetapi tetap humanis. Dan di titik itulah, Polwan menjadi teladan: seragam boleh gagah, tetapi hati harus tetap lembut. Dirgahayu ke-77 POLWAN Republik Indonesia. (Isi tulisan tanggung jawab penulis)
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer
Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.
Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.




















