Tambang aluvial sering dianggap lebih ringan dibanding tambang primer. Namun pengerukan bantaran sungai dan pembukaan vegetasi tetap membawa konsekuensi ekologis.

Laporan menyebutkan perubahan kualitas air dan meningkatnya kekeruhan di beberapa titik aliran. Jika tidak dikelola secara hati-hati, perubahan ini berpotensi memengaruhi akses air bersih dan keseimbangan ekosistem sungai.

Dalam konteks Papua yang sebagian wilayahnya masih sangat bergantung pada sumber air alami, isu ini tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan hidup masyarakat.

Ruang yang Diperebutkan

Konflik tapal batas antara komunitas di sekitar Kapiraya telah berlangsung sejak beberapa waktu. Kehadiran tambang emas memperumit situasi tersebut.

Sumber daya yang bernilai tinggi sering kali mempercepat intensitas klaim atas ruang. Ketika batas administratif bertemu dengan batas adat, dan ketika kepentingan ekonomi ikut masuk, ruang yang sebelumnya dikelola melalui kesepakatan kultural dapat berubah menjadi arena ketegangan.

Beberapa pernyataan anggota legislatif daerah menyebut bahwa aktivitas tambang ilegal turut memperuncing dinamika ini. Artinya, emas bukan penyebab tunggal, tetapi faktor penguat dalam relasi yang sudah sensitif.

Aluvial sebagai Metafora

Emas aluvial adalah endapan. Ia terlepas dari batuan induk, terbawa arus, lalu mengendap di tempat baru. Dalam arti tertentu, dinamika sosial di Kapiraya pun menyerupai proses itu: kepentingan datang dari luar, terbawa arus ekonomi, lalu mengendap di ruang adat yang telah lama memiliki tatanan sendiri

Jika tata kelola tidak dirancang secara inklusif dan transparan, maka legalisasi dapat berubah menjadi sebatas formalitas administratif. Sebaliknya, jika pengawasan lingkungan diperkuat, koperasi adat diberdayakan secara nyata, dan persetujuan masyarakat dilakukan secara utuh, maka tambang rakyat bisa menjadi ruang pembelajaran tata kelola baru.

Menghindari Petaka

Petaka aluvial bukan kepastian. Ia adalah kemungkinan yang dapat muncul ketika kebijakan berjalan lebih cepat daripada kesiapan sosial dan ekologi.

Sungai Papua akan mengalir. Pertanyaannya bukan apakah emas itu ada. Pertanyaannya adalah: bagaimana kita memperlakukan ruang hidup yang menyimpannya. Jika kehati-hatian menjadi prinsip, maka aluvial bisa menjadi berkah yang terkelola. Jika tidak, ia berpotensi menjadi jejak perubahan yang sulit dipulihkan. **