Dikatakan, dengan pihak keluarga terlibat dalam merawat, akan sangat mudah memahami gejala apa saja yang muncul untuk mengantisipasi sejak awal dengan mengantar di Puskesmas terdekat.

dr. Bernd mengapresiasi kepada Dinkes Mimika yang telah menyediakan obat-obatan di sepuluh Puskesmas sehingga memudahkan pasien dan keluarga mendapatkan layanan tanpa harus berangkat jauh ke Jayapura.

Dinkes Mimika kini menjadi pelopor dalam pelayanan kesehaan jiwa yang menyeluruh yang bisa dijangkau oleh masyarakat luas. Pelayanan ini terbuka untuk umum bagi yang tinggal di Mimika.

Ia menyebutkan dengan keterjangkuan pelayanan ini ada pasien dari Tual juga datang mengikuti pengobatan secara berkelanjutan di Mimika. Manfaatnya, pasien mendapat pelayanan dan keluarga mengalami keringanan biaya dalam hal mendapat pengobatan.

Ia mengungkapkan penyebab timbulnya sakit jiwa ini oleh tiga fakto utama yakni biologis, psikologis dan lingkungan. Sedangkan pasien skizofrenia penyebab yang ditimbulkan paling dominan aspek biologis, berkaitan dengan gangguan pada fungsi di otak sejak masih dalam kandungan. Ciri-ciri munculnya halusinasi, berbicara tidak nyambung, pola pikir yang janggal, dan baru muncul pada usia dewasa awal 15-20 tahun.

Selain timbul karena faktor genetik (biologis) pemicu lainnya penyalahgunaan zat-zat berbahaya dan mengisap ganja. Sehingga dibutuhkan peran pemerintah lintas sektor dalam menertibkan penjualan zat-zat berbahaya.

Ia menyebutkan salah satu kendala dihadapi pasien dengan skizofrenia berat selalu merokok sebagai cara meredakan gejala-gejala yang dirasakan. Pasien skizofrenia diperbolehkan merokok tetapi dalam jumlahnya dikurangi, jika dihentikan sekaligus akan menimbulkan masalah yang lebih serius. Pemberian rokok sebagai reward kepada pasien setelah selesai membantu membuat sesuatu.

Selain reward dalam bentuk rokok, keluarga dapat menggantikan dengan permen karet untuk mengalihkan ketergantungan pada rokok.

dr. Bernd mengaku melalui kegiatan tersebut dirinya banyak mendapat masukan dan gambaran bagaimana perjuangan keluarga menghadapi pasien untuk pulih sangat luar biasa. Meskipun mendapat pukulan, perlakuan kasar dan berontak dari pasien.

Menurutnya, kerjasama orangtua atau keluarga dalam pengobatan dan Dinas Kesehatan selalu menyediakan obat di fasilitas yang mudah dijangkau menjadi bagian penting menolong proses keberlanjutan pengobatan pasien. **