Pengguna narkoba lewat rokok elektrik ini, kata Ruslan selama ini hanya terjadi di Jakarta atau kota besar namun sekarang sudah masuk di Timika.

Ruslan mengungkapkan BNN memberikan perhatian kepada para pekerja bar dan café dalam memeriksa urine untuk mencegah sebelum terjadi kecanduan berat. Sebab, para pramuria yang ada di bar dan café jika diminta untuk memilih bekerja di tempat rawan sesungguhnya mereka menolak, tetapi dengan berbagai alasan faktor keterdesakan ekonomi terpaksa mau.

“Kita tidak bisa memilah dan memilih. Tetapi  kita hanya bertugas memetakan mana yang rawan dan mana yang tidak. Tindakan ini bagian pencegahan,” tuturnya.

Ia menjelaskan pemeriksaan urine ini tidak hanya pramuria saja tetapi sasaran secara keseluruhan mulai dari pemilik atau pengelola bar dan café. Karena berdasarkan pengalaman dua tahun lalu ketahuan positif adalah bagian manajemennya bukan pramuria.

Ia mengakui kelima orang ini sudah dipanggil untuk diassesmen oleh BNN di kantor. Dalam assesmen ini meminta keterangan kepada kelima untuk menjelaskan secara jujur sudah berapa lama menjadi pengguna, termasuk mendapat obat terlarang itu dari mana. Sementara bagi yang bukan pengguna namun karena ingin sekadar mencoba diberikan edukasi dan peringatan jangan lagi menggunakan dan selalu hati-hati karena dapat merusak mental dan kesehatan. **