Dalam diskusi bersama Arfan, perwakilan PT Nabire Baru, bahwa ke depan diperlukan kolaborasi antara pihak swasta, masyarakat, dan pemerintah untuk membangun industri kecil pengolahan pangan lokal, khususnya sagu. Industri ini diharapkan mampu mengelola rumpun sagu yang ada sekaligus menampung hasil sagu dari kampung-kampung sekitar Wanggar maupun wilayah Nabire.

“Langkah-langkah ini harus dirumuskan secara jelas dalam rencana strategis daerah agar benar-benar berdampak langsung bagi masyarakat,” tegasnya.

John menilai, keberadaan lumbung pangan lokal sangat relevan bagi Papua Tengah, terutama untuk memperkuat kemandirian pangan berbasis potensi lokal seperti sagu, ubi, keladi, dan perikanan. Konsep ini, lanjutnya, tidak hanya sebatas program budidaya, tetapi harus dikembangkan menjadi ekosistem industri pangan lokal yang berkelanjutan dari hulu hingga hilir, sehingga mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

Ia juga menyebutkan, rumpun sagu di Wanggar memiliki posisi yang sangat strategis untuk dijadikan pilot project kemitraan antara swasta, masyarakat, dan pemerintah, khususnya dalam pengembangan industri kecil pengolahan sagu di Nabire.

“Jika program ini dirumuskan dalam Renstra Daerah, RPJMD, dan didukung kebijakan pangan lokal tingkat provinsi, maka lumbung pangan lokal dapat menjadi gerakan nyata menuju kedaulatan pangan Papua Tengah,” pungkasnya. **