Timika,papuaglobalnews.com  – Dokter Bernd, spesial sakit jiwa Rumah Sakit Abepura Jayapura mengungkapkan orang mengalami sakit jiwa dipengaruhi tiga faktor utama. Ketiga faktor itu yakni biologis, psikologis dan lingkungan.

Hal ini dr. Bernd sampaikan kepada papuaglobalnews.com di sela-sela melayani pemeriksaan dan konsultasi pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (OGDJ) di Puskesmas Timika, Sabtu 4 Oktober 2025.

Ia menguraikan, orang sakit jiwa faktor biologis sangat beragam misalnya disebabkan sakit tertentu yang dialami pasien atau karena faktor ginetik, disebabkan menggunakan zat-zat tertentu seperti ganja, alkohol dengan dosis tinggi yang dapat mengganggu keseimbangan otak mengarah pada menimbulkan gejala gangguan jiwa.

Faktor psikologis, lebih kepada sesorang bagaimana menghadapi tekanan persoalan dalam hidup secara positif atau negatif. Biasanya sesorang menunjukan ekspresi sedih, mudah marah, mudah tersinggung. Indikasi psikologis ini timbul dari dalam dirinya sendiri. Jika tidak mampu menerima dan mengolah setiap masalah akan berisiko pada gangguan jiwa.

Faktor lingkungan juga turut mempengaruhi sesorang bisa sakit jiwa.

Ia mencontohkan dalam rumah pola asuh orangtua, komunikasi terhadap anak kurang ramah, sering marah-marah juga berisiko pada sakit jiwa. Atau lingkungan di luar rumah yang sering terjadi kekerasan berpotensi menimbulkan sakit mental.

Ia menegaskan keterkaitan ketiga faktor ini menjadi penyebab adanya gangguan mental terhadap sesorang.

Meskipun demikian, dr. Bernd memberikan tips solusi dalam menghadapi ketiga faktor itu.

Pertama, berupaya menciptakan kondisi biologis bagus. Ini berhubungan dengan pola makanan yang mengandung nutrisi dan nilai gizi, hindari mengkonsumsi zat-zat berbahaya, jangan mengonsumsi alkohol berlebih serta mengatur olahraga secara teratur.

Sedangkan faktor psikologis, seseorang yang sudah terkena sakit mental jalan satu-satunya dengan memberikan pengobatan secara teratur guna menyeimbangkan saraf otak. Selain itu, sesorang harus bisa mengenali diri sendiri seperti apa. Belajar mengenal kekurangan dan kelebihan diri sendiri dan menerima diri apa adanya. Belajar untuk memvalidasi emosi secara baik.

Ia mengungkapkan emosi itu ada yang negatif dan positif. Sesorang harus belajar menerima emosi negatif yang dimiliki. Misalnya mudah marah, tersinggung dan sedih. Dengan sudah mengenali diri sendiri akan jauh lebih mudah mengendalikan atau mengatur emosi negatif. Ini bertujuan supaya hidup lebih nyaman, mampu berinteraksi dengan orang lain.

Tips lainnya, belajar menyelesaikan persoalan dengan cara-cara yang baik, ramah, menghadapi suasana yang kurang sesuai secara spontan dengan bisa mengendalikan untuk tidak mudah reaktif.

Kemudikan dari aspek lingkungan, baik dalam rumah maupun di luar rumah, sangat penting melatih membangun pola komunikasi yang baik dengan orangtua, anak termasuk dengan masyarakat di lingkungan.

“Berhenti marah-marah apapun tujuan meskipun itu maksudnya baik,” sarannya.

Ia mengakui banyak pasien OGDJ dan pasien konsultasi kesehatan jiwa yang datang mendapat layanan psikologis menunjukan tingkat kesadaran masyarakat Mimika mulai bertumbuh kearah yang baik.

“Mereka datang konsultasi dan setelah diaglosa hasilnya memang tidak ada gejala sakit jiwa. Ini karena mereka merasa kuatir akan dirinya, kemungkinan ada gangguan tertentu sehingga masyarakat dengan sadar datang berkonsultasi,” ujarnya.

Ia mengatakan semakin tinggi respons masyarakat terhadap layanan kesehatan jiwa mencerminkan tingkat kesadaran warga sudah semakin baik akan pentingnya mengantisipasi kemungkinan sakit mental. Jika diketahui lebih awal dapat diintervensi oleh dokter dengan minum obat. **