Oktober 2026, Inflasi Year on Year Timika Tembus 6,18 Persen Tertinggi Selam Dua Tahun
Timika,papuaglobalnews.com – Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, mengalami inflasi year on year (y-on-y) sebesar 6,18 persen pada Oktober 2026 dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 118,64.
Angka tersebut menunjukkan kenaikan IHK dari 111,74 pada Oktober 2025 menjadi 118,64 pada Oktober 2026.
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, inflasi tahunan Timika pada Oktober 2026 tercatat jauh lebih tinggi. BPS Kabupaten Mimika mencatat inflasi y-on-y Oktober 2026 sebesar 6,18 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan Oktober 2025 yang sebesar 1,55 persen dan Oktober 2024 sebesar 4,75 persen.
Sementara inflasi year to date pada Oktober 2026 mencapai 5,21 persen. Angka ini juga lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada Oktober 2025 sebesar 1,09 persen dan Oktober 2024 sebesar 3,52 persen.
Data tersebut menunjukkan tekanan kenaikan harga berbagai komoditas di Timika sepanjang 2026 lebih besar dibandingkan dua tahun sebelumnya.
Sementara itu, inflasi month to month (m-to-m) atau bulanan pada Oktober 2026 tercatat sebesar 1,36 persen dan inflasi year to date (y-to-d) atau sepanjang tahun kalender mencapai 5,21 persen.
Hal ini berdasarkan data yang dirilis Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mimika, Dian Sudarmanto KS, SST., MM, kepada media, Selasa, 3 November 2026.
Ia menjelaskan inflasi terjadi akibat kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran.
Berdasarkan hasil pemantauan BPS Kabupaten Mimika, terdapat sembilan kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi secara tahunan.
Kelompok tersebut meliputi makanan, minuman dan tembakau sebesar 8,99 persen; perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 2,97 persen; kesehatan sebesar 0,80 persen; transportasi sebesar 10,56 persen; informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,01 persen; rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 2,31 persen; pendidikan sebesar 0,63 persen; penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,84 persen; serta perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 11,20 persen.
Sementara dua kelompok pengeluaran mengalami deflasi, yakni pakaian dan alas kaki sebesar 1,27 persen serta perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,68 persen.
Emas Perhiasan dan Bahan Pangan Dominasi Inflasi
Sejumlah komoditas memberikan andil cukup besar terhadap inflasi tahunan Timika pada Oktober 2026. Komoditas tersebut antara lain emas perhiasan, bayam, cabai rawit, angkutan udara, kangkung, bahan bakar rumah tangga, ikan kembung, ikan cakalang, sawi hijau, beras, kacang panjang, jeruk nipis, bensin, udang basah, ikan mumar, daun singkong, air kemasan, kopi bubuk, mobil, dan jeruk.
Sebaliknya, komoditas yang dominan memberikan andil terhadap deflasi tahunan antara lain daging babi, pepaya, sabun deterjen bubuk, bawang putih, kol putih atau kubis, daun bawang, ikan mujair, sabun cair atau sabun cuci piring, penyedap masakan, ketumbar, apel, sepatu anak, tomat, jahe, celana pendek pria, sampo, sepatu wanita, bawang merah, telur ayam ras, dan kentang.
Jika dilihat berdasarkan andil kelompok pengeluaran, makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi y-on-y dengan andil sebesar 3,95 persen.
Berikutnya, kelompok transportasi memberikan andil sebesar 0,93 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,87 persen, serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,42 persen.
Kelompok kesehatan memberikan andil sebesar 0,03 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,03 persen, rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,02 persen, serta pendidikan sebesar 0,02 persen.
Sementara kelompok pakaian dan alas kaki memberikan andil deflasi sebesar 0,04 persen dan perlengkapan, peralatan serta pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,05 persen. Kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan tidak memberikan andil signifikan terhadap inflasi maupun deflasi tahunan.
Makanan dan Minuman Jadi Penyumbang Terbesar
Pada Oktober 2026, kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi tahunan sebesar 8,99 persen. Indeks kelompok ini meningkat dari 114,11 pada Oktober 2025 menjadi 124,37 pada Oktober 2026.
Subkelompok makanan mengalami inflasi tertinggi sebesar 10,15 persen, sedangkan subkelompok rokok dan tembakau sebesar 1,61 persen. Adapun subkelompok minuman beralkohol tidak mengalami perubahan.
Kelompok ini memberikan andil inflasi tahunan sebesar 3,95 persen. Komoditas yang memberikan sumbangan terbesar antara lain bayam sebesar 0,79 persen, cabai rawit sebesar 0,54 persen, kangkung sebesar 0,51 persen, ikan kembung sebesar 0,29 persen, ikan cakalang sebesar 0,28 persen, sawi hijau sebesar 0,27 persen, beras sebesar 0,26 persen, serta kacang panjang dan jeruk nipis masing-masing sebesar 0,20 persen.
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer
Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.
Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.



