Nius Wenda: Lawan Perang yang Terjadi di Kwamki Narama Hanya Lewat Pendidikan Karakter
Pada kesempatan itu, Wenda secara pribadi menyampaikan terima kasih kepada para pendiri yang telah menggagas hadirnya SMTK Berea Timika sebagai wadah dalam mendidikan dan membentuk orang-orang menjadi lebih baik.
Dikatakan, saat ini ada orang yang otaknya sudah gila membunuh sembarang orang seperti binatang, menjadi tugas generasi muda untuk melawan meluruskan kembali isi otaknya agar hentikan konflik.
Wenda memotivasi kepada generasi OAP di Timika harus mengambil sikap tegas dan jangan melayani hal yang salah.
Selain berharap gereja ikut ambil peran, Wenda menilai terjadinya konflik ini menunjukan gereja sesungguhnya telah gagal mengarahkan jemaatnya kepada jalan yang benar, meskipun gereja sendiri tidak pernah mengajarkan manusia untuk saling membunuh.
“Setiap kita berada di jalan yang benar, pasti Tuhan akan bantu,” katanya.
Wenda berpesan kepada para pelajar meskipun usia masih mudah namun harus kuat dalam prinsip tanpa mudah goyah atau mudah menyerah ketika berhadapan dengan tantangan di lapangan. **
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer
Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.
Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.




















