Membaca Papua dari Mimika: Ulasan atas Menuju Timika yang Menyala
Di bidang demokrasi, buku ini menempatkan pengawasan pemilu dan pilkada sebagai urusan serius. Dana hibah, administrasi, dan tahapan pemilihan tidak boleh dibiarkan menjadi ruang rawan kebocoran atau formalitas belaka. RDP bersama KPU, Bawaslu, dan Bakesbangpol dibaca sebagai alat audit politik agar demokrasi lokal tetap bersih dan akuntabel. Sementara itu, konflik tapal batas Mimika dengan Deiyai dan Dogiyai menunjukkan bahwa persoalan administratif di Papua sering berubah menjadi konflik sosial yang jauh lebih rumit. Penyelesaiannya tak cukup teknokratik; ia memerlukan dialog dengan adat, pemerintah, dan pendekatan politik yang lebih arif.
Bab IV juga menyinggung strategi pemekaran wilayah sebagai cara mendekatkan pelayanan dan memangkas rentang kendali. Dalam konteks ini, pemekaran bukan sekadar ekspansi administratif, melainkan alat keadilan layanan. Mimika dibaca sebagai laboratorium otonomi: tempat negara diuji apakah benar-benar sanggup hadir secara efektif, sensitif, dan berpihak pada warga.
Bab V menggeser fokus pembaca ke masa depan, terutama pemuda Mimika. Di sini, buku ini menemukan titik terkuatnya: bahwa masa depan Papua tidak bisa hanya dititipkan pada tambang. Gagasan tentang BLK, link and match, sertifikasi kompetensi, dan pendekatan triple helix menunjukkan pandangan yang matang tentang pembangunan manusia. BLK tidak boleh menjadi gedung pelatihan yang mati, melainkan pusat keunggulan yang benar-benar menjawab kebutuhan industri. Afirmasi kepada OAP pun dipahami secara lebih bermartabat: bukan dengan menurunkan standar, tetapi dengan memberi pendampingan, matrikulasi, dan ruang tumbuh agar mereka mampu mencapai standar yang sama.
Pendekatan triple helix memperkuat logika itu. Pemerintah, industri, dan akademisi harus berjalan bersama agar pelatihan, sertifikasi, dan penempatan kerja tidak saling terputus. Kritik terhadap ego sektoral menjadi relevan karena selama lembaga-lembaga berjalan sendiri-sendiri, lulusan akan terus tidak cocok dengan kebutuhan pasar. Buku ini sangat jelas menolak pola lama yang linear dan gagal; yang ditawarkan adalah ekosistem yang terhubung dari hulu ke hilir.
Bab VI tentang Mimika Creative Hub memperluas horizon itu ke diversifikasi ekonomi. Penulis sadar bahwa daerah yang terlalu bergantung pada sektor ekstraktif selalu menyimpan risiko ketergantungan. Karena itu, anak muda harus diberi ruang untuk berkembang sebagai wirausahawan, kreator digital, pelaku ekonomi kreatif, dan inovator teknologi. Creative hub dibayangkan sebagai ruang yang menghubungkan mentoring, permodalan, dan akses pasar. Ini penting karena pembangunan yang sehat tidak cukup mencetak pekerja; ia harus juga mencetak pencipta peluang.
Pada akhirnya, Menuju Timika yang Menyala adalah buku tentang keberanian menghubungkan hukum, politik, dan masa depan dalam satu tarikan napas. Ia mengkritik negara tanpa kehilangan harapan, dan menawarkan solusi tanpa jatuh ke romantisme. Kekuatan utamanya terletak pada keberpihakan yang jelas: pada Papua, pada Mimika, pada keadilan, dan pada generasi muda. Buku ini mengingatkan bahwa Otsus tidak boleh berhenti sebagai dana, kelembagaan tidak boleh berhenti sebagai struktur, dan pembangunan tidak boleh berhenti pada proyek. Semua harus berujung pada martabat manusia.
Inilah sebabnya buku ini penting dibaca bukan hanya oleh mereka yang berkepentingan pada Papua, tetapi juga oleh siapa pun yang ingin memahami bagaimana kebijakan publik seharusnya bekerja: berpihak, terukur, dan hadir di kehidupan nyata. Timika, dalam buku ini, bukan sekadar kota tambang. Ia adalah medan harapan. Dan dari medan itulah, penulis mengajak kita melihat Papua yang menyala bukan karena slogan, melainkan karena kerja yang sungguh-sungguh. (*)













